p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal SEHAT
Achmad Kusyairi
Universitas Hafshawaty Zainul Hasan, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR  PEMICU YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN MOTORIK BERDASARKAN MANIFESTASI KLINIS PADA PENDERITA HIPERTENSI PASCA STROKE (DI PUSKESMAS PAJARAKAN) Novita Novita; Achmad Kusyairi; Nafolion Nur Rahmat
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 2 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/50adsf94

Abstract

Gangguan motorik adalah kelainan pada sistem saraf yang menyebabkan gerakan tubuh tidak normal. Gangguan ini bisa berupa kelemahan, kelumpuhan, atau gerakan tidak disengaja. Gangguan motorik bisa disebabkan oleh kerusakan pada saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi gangguan motorik pada penderita hipertensi pasca stroke di Puskesmas Pajarakan. Desain penelitian ini desain studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi 94 dan Sampel 76 responden pada tanggal 29 juni - 04 juli 2025 dengan penderita hipertensi pasca stroke yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang diambil dengan cara Simple Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi.  Data yang diperoleh dilakukan uji statistik analisis bivariat dengan uji Spearman’s Rank dan regresi logistic untuk mencari faktor dominan. Hasil penelitian didapatkan variabel perilaku kebiasaan merokok ρ= 0,604, IMT ρ= 0,009, nilai ρ aktivitas fisik = 0,000. Hal ini menunjukkan ada hubungan faktor IMT dan aktivitas fisik. Dan didapatkan faktor dominan yang mempengaruhi gangguan motorik adalah faktor aktivitas fisik dengan nilai wald 22,554. Dari hasil penelitian ini didapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi gangguan motorik pada penderita hipertensi pasca stroke adalah aktivitas fisik. Responden dengan aktivitas fisik rendah perlu secara aktif mengelola kondisi mereka untuk mengurangi terjadinya gangguan motorik. Untuk itu menerapkan gaya hidup sehat sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjaga pola aktivitas fisik maka perlu untuk mengurangi kebiasaan buruk seperti perilaku kebiasaan merokok, dan mengontrol pola makan.
HUBUNGAN SUBJECTIVE WELLL BEING DENGAN PERILAKU  PENCEGAHAN KOMPLIKASI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA POHSANGIT LERES Nur Hasanah; Achmad Kusyairi; Nafolion Nur Rahmat
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 2 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/fd583f50

Abstract

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten dengan tekanan darah sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg. Hipertensi sering disebut pembunuh diam-diam (silent killer) karena tidak memberikan gejala yang khas, tetapi bisa meningkatkan kejadian stroke, serangan jantung, penyakit ginjal kronik bahkan kebutaan jika tidak dikontrol dan dikendalikan dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan subjective well-being dengan perilaku pencegahan komplikasi pada penderita hipertensi di Desa Pohsangit Leres Kabupaten Probolinggo. Metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di desa pohsangit leres. populasi pada penelitian ini sebanyak 115 responden dengan besar sampel 96 responden menggunakan Proportionate random sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner The BBC Subjective Well being scale (BBC-SWB) dan lembar kuesioner. Analisis data pada penelitian ini menggunakan spearman Rank.  Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menderita hipertensi usia 46-55 tahun. Sebagian besar responden memiliki subjective well-being baik 44 (45.8%). Sedangkan pada perilaku pencegahan komplikasi hipertensi baik 39 (40.6%). Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara subjective well-being dan dengan perilaku pencegahan komplikasi hipertensi (p-value <0,05). Peningkatan subjective well-being berkontribusi positif terhadap perilaku pencegahan komplikasi pada penderita hipertensi. Edukasi kesehatan yang menekankan peningkatan subjective well-being disarankan untuk mendukung upaya pencegahan komplikasi hipertensi.