p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal SEHAT
Nafolion Nur Rahmat
Universitas Hafshawaty Zainul Hasan, Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR  PEMICU YANG BERHUBUNGAN DENGAN GANGGUAN MOTORIK BERDASARKAN MANIFESTASI KLINIS PADA PENDERITA HIPERTENSI PASCA STROKE (DI PUSKESMAS PAJARAKAN) Novita Novita; Achmad Kusyairi; Nafolion Nur Rahmat
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 2 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/50adsf94

Abstract

Gangguan motorik adalah kelainan pada sistem saraf yang menyebabkan gerakan tubuh tidak normal. Gangguan ini bisa berupa kelemahan, kelumpuhan, atau gerakan tidak disengaja. Gangguan motorik bisa disebabkan oleh kerusakan pada saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi gangguan motorik pada penderita hipertensi pasca stroke di Puskesmas Pajarakan. Desain penelitian ini desain studi analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi 94 dan Sampel 76 responden pada tanggal 29 juni - 04 juli 2025 dengan penderita hipertensi pasca stroke yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang diambil dengan cara Simple Random Sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner dan lembar observasi.  Data yang diperoleh dilakukan uji statistik analisis bivariat dengan uji Spearman’s Rank dan regresi logistic untuk mencari faktor dominan. Hasil penelitian didapatkan variabel perilaku kebiasaan merokok ρ= 0,604, IMT ρ= 0,009, nilai ρ aktivitas fisik = 0,000. Hal ini menunjukkan ada hubungan faktor IMT dan aktivitas fisik. Dan didapatkan faktor dominan yang mempengaruhi gangguan motorik adalah faktor aktivitas fisik dengan nilai wald 22,554. Dari hasil penelitian ini didapatkan faktor yang paling dominan mempengaruhi gangguan motorik pada penderita hipertensi pasca stroke adalah aktivitas fisik. Responden dengan aktivitas fisik rendah perlu secara aktif mengelola kondisi mereka untuk mengurangi terjadinya gangguan motorik. Untuk itu menerapkan gaya hidup sehat sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Selain menjaga pola aktivitas fisik maka perlu untuk mengurangi kebiasaan buruk seperti perilaku kebiasaan merokok, dan mengontrol pola makan.
PENGARUH EDUKASI GIZI METODE EMO DEMO TERHADAP PERILAKU PEMBERIAN MAKAN ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK DEWI RENGGANIS KRUCIL Krisdiya Nursyahriya; Dodik Hartono; Nafolion Nur Rahmat
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 2 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/92ebnf36

Abstract

Anak usia dini merupakan periode emas dalam proses tumbuh kembang, terutama pada usia 5–6 tahun. Pada masa ini, pemberian makan yang tepat sangat penting untuk mendukung kesehatan dan perkembangan optimal anak. Namun, masih banyak orang tua yang memiliki keterbatasan pengetahuan dan praktik dalam pemberian makan, yang menyebabkan pola makan anak menjadi kurang tepat. Sehingga menyebabkan terjadinya gizi buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi gizi metode Emo-Demo terhadap perilaku pemberian makan pada anak usia 5–6 tahun. Desain penelitian yang digunakan adalah pra-eksperimen dengan pendekatan one-group pretest-posttest design. Populasi sebanyak 88, dan sampel sebanyak 66 ibu yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Intervensi edukasi dilakukan dalam empat sesi yang mencakup pretest, dua kali pemberian edukasi dengan metode Emo-Demo, dan posttest. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner perilaku pemberian makan dengan indikator frekuensi makan, jumlah makanan, dan jenis makanan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perilaku pemberian makan yang tepat sebelum dan setelah dilakukan intervensi edukasi gizi metode Emo-Demo. Hasil uji statistik didapatkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05), yang berarti ada pengaruh antara edukasi gizi metode Emo Demo terhadap perilaku pemberian makan. Edukasi dengan metode Emo-Demo terbukti efektif dalam meningkatkan perilaku pemberian makan pada anak. Pendekatan ini dapat menjadi strategi edukatif yang menarik dalam upaya pencegahan gizi buruk pada anak. 
HUBUNGAN SUBJECTIVE WELLL BEING DENGAN PERILAKU  PENCEGAHAN KOMPLIKASI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI DESA POHSANGIT LERES Nur Hasanah; Achmad Kusyairi; Nafolion Nur Rahmat
Medical Studies and Health Journal (SEHAT) Vol. 2 No. 2 (2025): Medical Studies and Health Journal (SEHAT)
Publisher : Penelitian dan Pengembangan Ilmu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62207/fd583f50

Abstract

Hipertensi merupakan tekanan darah persisten dengan tekanan darah sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastoliknya di atas 90 mmHg. Hipertensi sering disebut pembunuh diam-diam (silent killer) karena tidak memberikan gejala yang khas, tetapi bisa meningkatkan kejadian stroke, serangan jantung, penyakit ginjal kronik bahkan kebutaan jika tidak dikontrol dan dikendalikan dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Hubungan subjective well-being dengan perilaku pencegahan komplikasi pada penderita hipertensi di Desa Pohsangit Leres Kabupaten Probolinggo. Metode penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di desa pohsangit leres. populasi pada penelitian ini sebanyak 115 responden dengan besar sampel 96 responden menggunakan Proportionate random sampling. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner The BBC Subjective Well being scale (BBC-SWB) dan lembar kuesioner. Analisis data pada penelitian ini menggunakan spearman Rank.  Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menderita hipertensi usia 46-55 tahun. Sebagian besar responden memiliki subjective well-being baik 44 (45.8%). Sedangkan pada perilaku pencegahan komplikasi hipertensi baik 39 (40.6%). Analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara subjective well-being dan dengan perilaku pencegahan komplikasi hipertensi (p-value <0,05). Peningkatan subjective well-being berkontribusi positif terhadap perilaku pencegahan komplikasi pada penderita hipertensi. Edukasi kesehatan yang menekankan peningkatan subjective well-being disarankan untuk mendukung upaya pencegahan komplikasi hipertensi.