Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas Konsumsi Air Kelapa Muda Untuk Menurunkan Kelelahan Kerja Dengan Indikator Asam Laktat Darah Pada Pekerja Wanita Unit Weaving Tyas Lilia Wardani; Maulidya Naimatul Fadzila; Afrian Eskartya Harjono; Reni Wijayanti; Isna Qadrijati; Jihan Faradhisa; Rachmawati Prihantina Fauzi; Rici Riansyah; Rizqy Kartika Sari
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol. 15 No. 02 (2026): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v15i02.4356

Abstract

Lingkungan kerja yang panas menyebabkan pengeluaran energi tambahan saat tubuh beradaptasi dengan suhu area kerja, yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan bagi pekerja dan menyebabkan kelelahan. Survei awal pada PT X menunjukkan bahwa iklim kerja panas unit weaving adalah 30,2℃ dengan 9 dari 10 pekerja mengalami kelelahan sedang. Tujuan penelitian menganalisis efektivitas konsumsi air kelapa muda untuk menurunkan kelelahan kerja. Desain penelitian ini quasi-eksperiment dengan model desain nonequivalent control group desain. Populasi penelitian ini 100 pekerja weaving. Purposive sampling digunakan untuk mendapatkan sampel 50 responden yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan eksperimen masing-masing 25 orang. Kelompok eksperimen diberi intervensi dengan mengonsumsi air kelapa muda sebanyak 350 ml selama 5 hari kerja sedangkan kelompok kontrol tidak. Kelelahan kerja diukur melalui pemeriksaan kadar asam laktat darah sebelum dan sesudah intervensi yang kemudian dianalisis dengan uji statistik Paired Sample t-Test dan Independent t-Test. Hasil penelitian menunjukkan kelelahan kerja kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan signifikan p-value=0,245 (p>0,05) dan kelelahan kerja kelompok eksperimen terdapat perbedaan signifikan p-value< 0,001 (p<0,05). Kelelahan kerja antar kelompok terdapat perbedaan yang signifikan p-value=0,016 (p<0,05) dengan nilai effect size Cohen’s d sebesar 0,71. Disimpulkan bahwa konsumsi air kelapa muda efektif untuk menurunkan kelelahan kerja pada pekerja wanita unit weaving.
Hubungan Kelembapan Udara dan Intensitas Pencahayaan Dengan Sick Building Syndrome di Departemen K3 PT X Jakarta Nurrohmah; Afrian Eskartya Harjono; Reni Wijayanti; Maria Paskanita Widjanarti
Journal of Applied Agriculture, Health, and Technology Vol. 4 No. 2 (2025): December
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jaht.v4i2.3209

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan salah satu masalah kesehatan kerja yang sangat berkaitan dengan kondisi kualitas udara dan lingkungan fisik di dalam sebuah bangunan. Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2022 diperkirakan sekitar 3,2 juta orang akan meninggal sebelum waktunya akibat penyakit yang disebabkan oleh polusi udara di dalam ruangan Penelitian ini memfokuskan kajian pada dua faktor fisik utama yang diduga menjadi pemicu gejala tersebut, yakni tingkat kelembapan udara serta intensitas pencahayaan di area kerja. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel jenuh atau total sampling, di mana seluruh populasi sebanyak 81 responden dilibatkan dalam studi. Untuk menjamin validitas data, proses pengukuran dilakukan secara objektif menggunakan instrumen hygrometer untuk memantau kelembapan dan lux meter untuk mengukur kuat penerangan. Selain itu, kuesioner khusus SBS digunakan untuk mengidentifikasi persepsi keluhan kesehatan dari para pekerja. Hasil analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank mengungkapkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara kelembapan udara terhadap kemunculan SBS (p=0,000). Temuan serupa juga diperoleh pada variabel intensitas pencahayaan yang menunjukkan nilai signifikansi p=0,000. Melalui uji regresi linier berganda, diketahui bahwa secara simultan kelembapan dan pencahayaan memberikan kontribusi sebesar 54,7% terhadap risiko terjadinya SBS. Dari kedua variabel tersebut, kelembapan udara ditemukan sebagai faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kesehatan pekerja, dengan nilai t sebesar 6,251 dan nilai p<0,05. Hal ini menunjukkan perlunya manajemen lingkungan kerja yang lebih ketat guna menekan prevalensi keluhan kesehatan di perkantoran.