Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Bridging the Gap: EFL Lecturers Familiarity and Knowledge of Technology in Language Teachings Subhan Rahmat; Nurdin Noni; La Sunra; Abd. Halim
Journal of English Language Teaching, Literature and Culture Vol. 4 No. 2 (2025): JELTEC: Journal of English Language Teaching Literature and Culture
Publisher : English Education Postgraduate Program, Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53682/jeltec.v4i2.12768

Abstract

The rapid growth of digital technology has significantly influenced the landscape of higher education including English as a Foreign Language EFL instruction However many lecturers still struggle to integrate technology effectively into their pedagogy This study investigates EFL lecturers technological familiarity and knowledge in a maritime higher education context aiming to identify their level of technological competence and the underlying factors influencing technology use in teaching Employing a quantitative research design data were collected through a questionnaire administered to 15 lecturers from a maritime higher education institution in Indonesia The findings revealed that lecturers possess moderate familiarity with digital tools such as learning management systems and video conferencing platforms However their pedagogical integration of technology remains limited with most using it mainly for material delivery rather than interactive or student centered learning The analysis indicates that the lecturers technological knowledge TK has not yet been sufficiently linked with pedagogical PK and content knowledge CK as conceptualized in the Technological Pedagogical and Content Knowledge TPACK framework Barriers such as insufficient infrastructure lack of institutional support and limited digital pedagogical understanding were found to hinder optimal technology integration The study suggests that sustainable professional development programs focusing on digital pedagogy and contextualized training are essential to enhance lecturers competence in integrating technology for effective EFL instruction in maritime education < p>
Peningkatan Kepercayaan Diri dan Keterampilan Berbicara Bahasa Inggris Siswa Melalui Kegiatan English Competition Virgita Crustia Suli; Lely Novia; La Sunra; Rosmawati Rosmawati; Muhammad Saad
Jurnal Abdimas Komunikasi dan Bahasa Vol. 5 No. 1 (2025): Juni
Publisher : LPPM Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/abdikom.v5i1.9048

Abstract

Rendahnya rasa percaya diri sering kali menjadi penghalang utama bagi siswa dalam mengembangkan keterampilan berbicara bahasa Inggris, terutama dalam situasi yang menuntut kompetisi. Artikel ini mengangkat masalah rendahnya kepercayaan diri di kalangan siswa yang dapat menghambat kemampuan berbicara bahasa Inggris mereka. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa melalui pelatihan menggunakan aplikasi ELSA Speak, pembuatan poster digital dengan bantuan Microsoft Copilot dan Canva, serta mengajak mereka untuk berpartisipasi dalam kompetisi bahasa Inggris. Metode yang digunakan melibatkan dua tahap, yaitu: pertama, pelatihan berbasis teknologi melalui aplikasi ELSA Speak untuk meningkatkan pengucapan dan kelancaran berbicara siswa; kedua, pembuatan poster digital yang bertujuan untuk memotivasi siswa dalam menyampaikan ide dengan cara kreatif dan efektif menggunakan Microsoft Copilot dan Canva. Setelah pelatihan dan pembuatan poster, siswa diajak untuk mengikuti kompetisi bahasa Inggris sebagai platform untuk menguji dan menunjukkan keterampilan berbicara mereka. Kegiatan ini dilakukan di SMK Telkom Makassar dengan melibatkan siswa dari ekstrakurikuler English Meeting Club (EMC). Data dikumpulkan melalui survei untuk mengukur tingkat kepercayaan diri dan keterampilan berbicara siswa sebelum dan setelah mengikuti pelatihan, pembuatan poster, dan kompetisi. Hasil yang diharapkan adalah adanya peningkatan yang signifikan dalam kepercayaan diri serta keterampilan berbicara siswa. Temuan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan dengan ELSA Speak, pembuatan poster digital, dan partisipasi dalam kompetisi bahasa Inggris dapat secara efektif meningkatkan rasa percaya diri dan keterampilan berbicara bahasa Inggris siswa, baik dalam kelancaran, akurasi, dan pemahaman materi. Pengabdian ini memberikan kontribusi signifikan terhadap pengembangan diri siswa dalam penggunaan bahasa Inggris. Low self-confidence is often a major barrier for students in developing their English speaking skills, especially in competitive situations. This community service article addresses the issue of low self-confidence among students that may hinder their English speaking ability. The aim of this community service activity is to enhance students' self-confidence and English speaking skills through training using the ELSA Speak app, creating digital posters with the help of Microsoft Copilot and Canva, and encouraging them to participate in an English competition. The method involves two stages: first, technology-based training through the ELSA Speak app to improve students' pronunciation and speaking fluency; second, creating digital posters to motivate students in conveying their ideas creatively and effectively using Microsoft Copilot and Canva. After the training and poster creation, students are encouraged to participate in English competitions as a platform to test and showcase their speaking skills. The activity was conducted at SMK Telkom Makassar, involving students from the English Meeting Club (EMC) extracurricular activity. Data were collected through surveys to assess students' self-confidence and speaking skills before and after the training, poster creation, and competition. The expected outcome was a significant improvement in students' self-confidence as well as their speaking skills. The findings from this community service activity indicate that training with ELSA Speak, digital poster creation, and participation in English competitions effectively enhance students' self-confidence and English speaking skills, in terms of fluency, accuracy, and material comprehension. This activity makes a significant contribution to the students' self-development in using English.
From Competency-Based to Merdeka Curriculum: A Comparative Study Based on Richards' Curriculum Development Theory Muftihaturrahmah Burhamzah; La Sunra; Syarifuddin Dollah; Alamsyah Alamsyah; Sabrina Rocholl
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7297

Abstract

This study presents a comparative analysis of Indonesia's Competency-Based Curriculum (CBC) and the newly implemented Merdeka Curriculum, utilizing Richards' curriculum development theory as a theoretical framework. Through document analysis, teacher interviews, and classroom observations across multiple Indonesian schools, this research examines both curricula across six key dimensions: goals, content, pedagogy, assessment, flexibility, and teacher autonomy. Findings reveal that while CBC emphasizes standardized competencies and measurable outcomes, the Merdeka Curriculum offers greater flexibility, student-centered approaches, and enhanced teacher autonomy. The transition reflects Indonesia's educational reform agenda to address 21st-century learning needs while respecting local contexts. Richards' framework proves particularly valuable in identifying systematic strengths and weaknesses in both approaches. The Merdeka Curriculum demonstrates significant potential for fostering creativity and critical thinking but faces implementation challenges related to resource distribution and teacher readiness. This study offers insights for policymakers, curriculum developers, and educational practitioners navigating curriculum reforms in similar contexts.
Intercultural Communication: Tantangan dan Strategi dalam Era Globalisasi Muftihaturrahmah Burhamzah; La Sunra; Syarifuddin Dollah; Alamsyah Alamsyah; Alissa Geisler
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 12 No. 1 (2026): Penulis pada Edisi ini Terdiri dari Enam (6) Negara: Indonesia, Malaysia, Chin
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v12i1.7300

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dan strategi komunikasi antarbudaya pada mahasiswa perguruan tinggi di Indonesia dalam era globalisasi. Penelitian ini dilandasi oleh meningkatnya intensitas interaksi lintas budaya di lingkungan pendidikan tinggi, yang menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi komunikasi antarbudaya yang adaptif dan reflektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan melibatkan 20 partisipan dari berbagai program studi yang memiliki pengalaman komunikasi antarbudaya melalui kegiatan pertukaran mahasiswa, kolaborasi internasional, maupun aktivitas akademik lintas budaya. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, serta analisis dokumen reflektif. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan tiga tema utama, yaitu: (1) hambatan bahasa yang meliputi keterbatasan kosakata, perbedaan aksen, serta kesulitan dalam memahami makna pragmatik; (2) adaptasi budaya yang mencakup tahapan stres, penyesuaian, dan perkembangan identitas multikultural; serta (3) strategi komunikasi yang meliputi upaya klarifikasi, penyesuaian nonverbal, dan empati budaya guna menjaga efektivitas interaksi. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan komunikasi antarbudaya tidak hanya bergantung pada kemampuan linguistik, tetapi juga pada kesadaran budaya, refleksi diri, dan kemampuan adaptasi sosial. Oleh karena itu, penelitian ini mengimplikasikan pentingnya integrasi kompetensi antarbudaya ke dalam kurikulum pendidikan tinggi melalui pembelajaran berbasis pengalaman, kolaborasi internasional, dan refleksi antarbudaya. Dengan demikian, mahasiswa dapat meningkatkan kesadaran global, empati antarbudaya, serta kemampuan berkomunikasi secara efektif dalam lingkungan multikultural yang beragam.