Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran Kejadian Hipotensi Intra Anestesi Spinal Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeselo Kabupaten Tegal Alyka Fadiyah Haya; Tophan Heri Wibowo; Roro Lintang Suryani
Jurnal Inovasi Global Vol. 3 No. 6 (2025): Jurnal Inovasi Global
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jig.v3i6.364

Abstract

Spinal anestesi atau Sub Arachoid Block (SAB) adalah teknik menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke dalam ruang subarachnoid di bagian belakang tulang belakang antara tulang belakang lumbal 2–3, lumbal 3–4, atau lumbal 4–5. Tekanan darah rendah adalah komplikasi yang paling umum terjadi saat anestesi spinal dengan tingkat kejadiannya mencapai lebih dari 80%. Penyebab hipotensi pada anestesi spinal disebabkan oleh beberapa faktor termasuk jenis anestesi lokal, tingkat blok sensorik, usia, jenis kelamin, berat badan, kondisi fisik pasien, posisi pasien, tindakan bedah dan durasi operasi. Tujuan penelitian ini mengetahui gambaran kejadian hipotensi intra anestesi spinal pada pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeselo Kabupaaten Tegal. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan jumlah sampel 52 pasien. Pengambilan data dilakukan pada Oktober 2024. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi dan Sphygmomanometer. Hasil penelitian didapatkan pasien intra anestesi spinal di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeselo adalah pra lanjut usia (45-59 tahun) sebanyak 23 pasien (44.2%), berjenis kelamin laki-laki sebanyak 35 pasien (67.3%) dan sebagian besar pasien intra anestesi spinal dari waktu setelah induksi yang terjadi pada pasien di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soeselo tidak mengalami hipotensi sebanyak 33 pasien (63.5%).
Implementasi Terapi Murottal sebagai Metode Non Farmakologi dalam Mengatasi Cemas Pasien Pre Operasi di Rumah Sakit Anisa Delviara; Roro Lintang Suryani; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 4 (2026): Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i4.1459

Abstract

Kecemasan sebelum tindakan pembedahan merupakan salah satu respons psikologis yang banyak dialami pasien dan dapat menimbulkan berbagai perubahan fisiologis maupun psikologis, seperti peningkatan tekanan darah, frekuensi denyut jantung, gangguan pola tidur, serta munculnya rasa tidak nyaman. Apabila tidak ditangani secara optimal, kondisi tersebut berpotensi menghambat pelaksanaan anestesi dan memperlambat proses pemulihan setelah operasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan menerapkan terapi murottal Surah Ar-Rahman sebagai intervensi nonfarmakologis untuk membantu menurunkan kecemasan pada pasien praoperasi di Rumah Sakit Umum Siaga Medika Purbalingga. Metode yang digunakan meliputi identifikasi peserta, pengukuran tingkat kecemasan awal menggunakan Visual Analog Scale for Anxiety (VAS-A), pemberian terapi murottal selama kurang lebih 15 menit, serta evaluasi ulang tingkat kecemasan setelah intervensi. Sebanyak 30 pasien praoperasi terlibat dalam kegiatan ini. Sebelum terapi diberikan, seluruh peserta berada pada kategori kecemasan sedang dengan skor paling banyak ditemukan adalah skor 6 (43,3%). Setelah mendapatkan terapi murottal, sebagian besar peserta mengalami penurunan kecemasan menjadi kategori ringan, dengan skor 3 sebagai skor yang paling dominan (50,0%). Temuan ini menunjukkan bahwa terapi murottal Surah Ar-Rahman berpotensi menjadi alternatif intervensi nonfarmakologis yang efektif, aman, dan mudah diterapkan dalam upaya mengurangi kecemasan pasien pada periode perioperatif.
Implementasi Terapi Kompres Dingin Dalam Upaya Menurunkan Tingkat Nyeri Tenggorokan Pasca Intubasi Endotracheal Tube Cita Purnanika; Roro Lintang Suryani; Linda Yanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 4 (2026): Juli
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i4.1482

Abstract

Intubasi Endotracheal Tube (ETT) pada tindakan anestesi umum sering menimbulkan keluhan Postoperative Sore Throat (POST), yaitu nyeri tenggorokan pascaoperasi akibat iritasi dan inflamasi pada mukosa saluran napas yang dapat menurunkan kenyamanan dan memperlambat pemulihan pasien. Salah satu penatalaksanaan nonfarmakologis yang efektif adalah terapi kompres dingin, yang bekerja dengan menurunkan suhu lokal, memperlambat konduksi impuls saraf nyeri, dan mengurangi proses inflamasi. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik peserta serta mengidentifikasi skala nyeri tenggorokan sebelum dan sesudah pemberian kompres dingin pada pasien pasca intubasi ETT. Kegiatan dilakukan pada 30 peserta pasca intubasi ETT di RSUD Salatiga pada 17 November–3 Desember 2025. Intervensi dilakukan dengan mengukur skala nyeri menggunakan Visual Analog Scale (VAS), memberikan kompres dingin menggunakan cold pack bersuhu ±10°C selama 15 menit pada area leher anterior, kemudian mengukur kembali skala nyeri. Hasil menunjukkan sebelum intervensi, 18 peserta (60,0%) mengalami nyeri sedang dan 12 peserta (40,0%) nyeri ringan. Setelah intervensi, 28 peserta (93,3%) mengalami nyeri ringan, 1 peserta (3,3%) tidak nyeri, dan 1 peserta (3,3%) masih mengalami nyeri sedang. Terapi kompres dingin cold pack terbukti efektif menurunkan intensitas nyeri tenggorokan pasca intubasi ETT secara nonfarmakologis.