Reza Zanjabila
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PRINSIP PRAGMATISME DAN KONSEP EXPERIENCE JOHN DEWEY SEBAGAI PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PAI ABAD 21 Lutfina Aribah; Hani Zahrani; Reza Zanjabila; Usman Usman; Sibawaihi Sibawaihi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 10 No 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid: jurnal pemikiran keislaman dan kemanusiaan.v10i1.5882

Abstract

Artikel ini mengkaji prinsip Pragmatisme dan konsep Experience dalam pemikiran John Dewey sebagai kerangka filosofis untuk merekonstruksi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan analisis kritis-filosofis terhadap karya-karya utama Dewey seperti Democracy and Education, Experience and Education, dan How We Think. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pragmatisme Dewey menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang fungsional, diverifikasi melalui pengalaman, serta bernilai sejauh mampu memecahkan persoalan kehidupan. Sementara itu, konsep Experience Dewey menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada interaksi reflektif antara individu dan lingkungan, melalui prinsip continuity dan interaction. Kedua prinsip tersebut memiliki relevansi signifikan bagi pengembangan PAI yang selama ini cenderung teoritis dan tekstual. Melalui integrasi nilai Pragmatisme dan Experience, PAI dapat direkonstruksi menjadi pembelajaran yang fungsional, kontekstual, dan menghasilkan actionable knowledge. Artikel ini menawarkan tiga model pengembangan PAI berbasis Dewey, yaitu: Experiential Religious Learning, Problem-Based Islamic Learning, dan Democratic-Dialogic Islamic Learning. Ketiganya menempatkan pengalaman, dialog, dan pemecahan masalah sebagai fondasi pembelajaran yang mampu membentuk kompetensi spiritual, moral, dan sosial mahasiswa. Dengan demikian, pemikiran Dewey memberikan kontribusi epistemologis dan pedagogis yang penting bagi transformasi PAI menjadi pendidikan agama yang adaptif terhadap dinamika kehidupan modern.
PRINSIP PRAGMATISME DAN KONSEP EXPERIENCE JOHN DEWEY SEBAGAI PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN PAI ABAD 21 Lutfina Aribah; Hani Zahrani; Reza Zanjabila; Usman Usman; Sibawaihi Sibawaihi
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 10 No. 1 (2026): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tajdid.v10i1.5882

Abstract

Artikel ini mengkaji prinsip Pragmatisme dan konsep Experience dalam pemikiran John Dewey sebagai kerangka filosofis untuk merekonstruksi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di era kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan analisis kritis-filosofis terhadap karya-karya utama Dewey seperti Democracy and Education, Experience and Education, dan How We Think. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pragmatisme Dewey menempatkan kebenaran sebagai sesuatu yang fungsional, diverifikasi melalui pengalaman, serta bernilai sejauh mampu memecahkan persoalan kehidupan. Sementara itu, konsep Experience Dewey menegaskan bahwa pendidikan harus berakar pada interaksi reflektif antara individu dan lingkungan, melalui prinsip continuity dan interaction. Kedua prinsip tersebut memiliki relevansi signifikan bagi pengembangan PAI yang selama ini cenderung teoritis dan tekstual. Melalui integrasi nilai Pragmatisme dan Experience, PAI dapat direkonstruksi menjadi pembelajaran yang fungsional, kontekstual, dan menghasilkan actionable knowledge. Artikel ini menawarkan tiga model pengembangan PAI berbasis Dewey, yaitu: Experiential Religious Learning, Problem-Based Islamic Learning, dan Democratic-Dialogic Islamic Learning. Ketiganya menempatkan pengalaman, dialog, dan pemecahan masalah sebagai fondasi pembelajaran yang mampu membentuk kompetensi spiritual, moral, dan sosial mahasiswa. Dengan demikian, pemikiran Dewey memberikan kontribusi epistemologis dan pedagogis yang penting bagi transformasi PAI menjadi pendidikan agama yang adaptif terhadap dinamika kehidupan modern.
Transformasi Nilai Moderasi dalam Kurikulum Pendidikan Islam(Kajian Sejarah Sosial dari Pesantren Tradisional ke Pendidikan Modern) Fatnun Fajriyah; Reza Zanjabila; Nimatuz Zuhroh; Moh. Padil
Akademika Vol 20 No 1 (2026): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/74846q80

Abstract

Moderasi beragama menjadi isu penting dalam merespons dinamika sosial kontemporer yang ditandai oleh munculnya radikalisme, intoleransi, dan polarisasi sosial. Dalam konteks tersebut, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai moderasi yang berakar pada tradisi keilmuan pesantren dan berkembang dalam sistem pendidikan modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi nilai moderasi dalam kurikulum pendidikan Islam melalui pendekatan sejarah sosial, khususnya dari tradisi pendidikan pesantren menuju sistem pendidikan Islam modern. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah sosial serta studi literatur yang meliputi karya klasik ulama, dokumen kurikulum pendidikan Islam, dan penelitian kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesantren tradisional telah menanamkan nilai moderasi melalui pengajaran kitab klasik, praktik kehidupan santri, serta relasi sosial yang menekankan keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan kehidupan bermasyarakat. Nilai tersebut mengalami transformasi pada era modern melalui integrasi kurikulum nasional, penguatan pendidikan karakter, serta pengembangan moderasi beragama dalam kebijakan pendidikan. Transformasi tersebut tidak menghilangkan tradisi pesantren, tetapi menempatkan kembali nilai moderasi dalam konteks pendidikan Islam modern. Dengan demikian, penguatan moderasi dalam kurikulum pendidikan Islam merupakan proses historis berkelanjutan yang berperan dalam membentuk sikap keagamaan inklusif, toleran, dan proporsional dalam masyarakat plural di Indonesia