Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Komunikasi Pemasaran Sosial dalam Penguatan Kesadaran Lingkungan melalui Program Ecolution di Kota Bekasi Marlina; Dunola Tri Nugraeni; Ayu Rakhmi Tiara Hamdani
Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025): Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia
Publisher : Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25008/wartaiski.v8i2.448

Abstract

Abstrak - Program Ecolution yang diinisiasi oleh LSPR Institute of Communication and Business merupakan penerapan strategi komunikasi pemasaran sosial untuk memperkuat kesadaran lingkungan dan mendorong partisipasi publik dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kota Bekasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) dengan desain eksplanatoris sekuensial. Survei kuantitatif pra dan pasca-intervensi dilakukan terhadap 400 kepala rumah tangga di 10 kelurahan percontohan. Data kualitatif dikumpulkan melalui 22 wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan kunci (pemerintah, akademisi, aktivis, dan peserta program) serta observasi partisipatif. Data dianalisis secara statistik deskriptif dan inferensial (uji-t berpasangan), serta analisis tematik dengan perangkat lunak NVivo 12. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pada pengetahuan lingkungan (+28%), sikap positif terhadap pengelolaan sampah (+21%), serta praktik pemilahan sampah dengan peningkatan rata-rata 12 kg per rumah tangga per bulan. Temuan kualitatif mengidentifikasi tiga faktor pendorong keberhasilan: (1) framing pesan berbasis nilai lokal dan kebanggaan komunitas, (2) kolaborasi strategis multi-aktor (triple helix), dan (3) pemanfaatan kanal digital dan tatap muka untuk pembelajaran eksperiensial. Analisis juga menunjukkan bahwa kegiatan kreatif seperti bank sampah skincare, plogging, dan kompetisi foto secara signifikan meningkatkan keterlibatan generasi muda. Studi ini menyimpulkan efektivitas model Ecolution sebagai kerangka komunikasi perubahan perilaku yang dapat direplikasi. Rekomendasi kebijakan mencakup adopsi model oleh pemangku kepentingan, pendanaan hibrida, integrasi kurikulum, serta pembentukan unit komunikasi perilaku hijau di tingkat daerah. Kata kunci: Ecolution; Komunikasi Pemasaran Sosial; Kesadaran Lingkungan; Pengelolaan Sampah; Perilaku Berkelanjutan.
PENGEMBANGAN DESA WISATA HIJAU BILEBANTE LOMBOK MELALUI BRANDING BERKELANJUTAN DENGAN DESIGN CINDERAMATA Jati Paras Ayu; Stephanny Lianardo; Yesi Pandu Pratama Wibowo DC; Siti Adelita Raif Khadijah; Dewi Rachmawati; Ayu Rakhmi Tiara Hamdani
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 3 (2026): Inpress Vol. 7 No. 3 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i3.53229

Abstract

Pariwisata sebelum pandemi menunjukkan rendahnya perhatian wisatawan terhadap keberlanjutan, di mana keputusan berwisata lebih dipengaruhi oleh kenyamanan dan biaya daripada aspek ramah lingkungan. Situasi pandemi global kemudian menjadi titik balik yang memaksa sektor pariwisata beradaptasi dan membangun ketahanan melalui praktik yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program Desa Wisata sebagai strategi pemulihan sekaligus penguatan destinasi lokal. Salah satu yang masuk dalam kategori Desa Wisata Hijau adalah Desa Bilebante, Lombok Tengah. Meski memiliki potensi lingkungan dan budaya yang kuat, masyarakat desa belum memiliki pemahaman memadai terkait branding destinasi. Melalui program pelatihan ini, anggota Pokdarwis diberikan pemahaman mengenai branding serta keterampilan praktis dalam merancang logo dan mengimplementasikannya pada produk merchandise berupa gelas kayu berukir. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman branding sebesar 85%, peningkatan keterampilan desain hingga 80%, serta 75% peserta mampu mengoperasikan mesin laser engraving untuk produksi cinderamata. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan terstruktur mampu meningkatkan kapasitas branding desa wisata, memperkuat identitas visual, serta membuka peluang ekonomi melalui produk bernilai promosi.