Pariwisata sebelum pandemi menunjukkan rendahnya perhatian wisatawan terhadap keberlanjutan, di mana keputusan berwisata lebih dipengaruhi oleh kenyamanan dan biaya daripada aspek ramah lingkungan. Situasi pandemi global kemudian menjadi titik balik yang memaksa sektor pariwisata beradaptasi dan membangun ketahanan melalui praktik yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas. Menanggapi hal tersebut, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif meluncurkan program Desa Wisata sebagai strategi pemulihan sekaligus penguatan destinasi lokal. Salah satu yang masuk dalam kategori Desa Wisata Hijau adalah Desa Bilebante, Lombok Tengah. Meski memiliki potensi lingkungan dan budaya yang kuat, masyarakat desa belum memiliki pemahaman memadai terkait branding destinasi. Melalui program pelatihan ini, anggota Pokdarwis diberikan pemahaman mengenai branding serta keterampilan praktis dalam merancang logo dan mengimplementasikannya pada produk merchandise berupa gelas kayu berukir. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman branding sebesar 85%, peningkatan keterampilan desain hingga 80%, serta 75% peserta mampu mengoperasikan mesin laser engraving untuk produksi cinderamata. Kegiatan ini membuktikan bahwa pelatihan terstruktur mampu meningkatkan kapasitas branding desa wisata, memperkuat identitas visual, serta membuka peluang ekonomi melalui produk bernilai promosi.
Copyrights © 2026