Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENDIDIKAN PRANIKAH DALAM PERSPEKTIF FIKIH MUNAKAHAT SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN KELUARGA SAKINAH Pasaribu, Nur Khadijah; Halima, Siti; Tanjung, Ramadhani Safitri; Hasibuan, Sulham Efendi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i1.9140

Abstract

Marriage in Islamic teachings is a sacred covenant (mitsaqan ghalizha) with the noble aim of establishing a family characterized by tranquility (sakinah), affection (mawaddah), and mercy (rahmah). In modern society, many married couples face various household problems due to a lack of understanding of the principles, rights, and obligations prescribed by Islamic law. This situation highlights the significance of premarital education as an essential preparation that provides knowledge, spiritual reinforcement, and emotional readiness for prospective spouses. This study seeks to elaborate on the concept of premarital education from the perspective of fiqh al-munakahat and to analyze its implementation in contemporary life. The research employs a qualitative approach with a descriptive-analytical method, using literature review from both classical and modern fiqh sources. The findings indicate that premarital education in fiqh al-munakahat not only focuses on the legality of the marriage contract but also emphasizes moral development, responsibility, and awareness of each partner’s role within the household. Therefore, the application of premarital education based on the principles of fiqh al-munakahat plays a vital role in shaping harmonious, ethical Muslim families grounded in Islamic values and oriented toward the realization of a sakinah family. ABSTRAK Pernikahan dalam ajaran Islam merupakan sebuah perjanjian agung (mitsaqan ghalizha) yang memiliki tujuan luhur untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Dalam realitas masyarakat modern, banyak pasangan suami istri mengalami berbagai persoalan rumah tangga karena minimnya pemahaman terhadap prinsip dan kewajiban yang diatur dalam syariat Islam. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pelaksanaan pendidikan pranikah sebagai sarana pembekalan ilmu, pemantapan spiritual, serta kesiapan emosional bagi calon pasangan. Penelitian ini berupaya menguraikan konsep pendidikan pranikah dari perspektif fikih munakahat dan mengkaji penerapannya dalam konteks kehidupan masa kini. Pendekatan penelitian yang digunakan bersifat kualitatif dengan metode deskriptif analitis melalui telaah literatur terhadap kitab-kitab fikih klasik maupun modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan pranikah menurut fikih munakahat tidak sebatas membahas aspek hukum akad nikah, tetapi juga menekankan pembentukan akhlak, tanggung jawab, dan kesadaran terhadap peran masing-masing dalam rumah tangga. Dengan demikian, penerapan pendidikan pranikah berdasarkan nilai-nilai fikih munakahat berperan penting dalam membentuk generasi keluarga muslim yang harmonis, berakhlak, serta berlandaskan prinsip-prinsip Islam menuju terwujudnya keluarga sakinah.
Edukasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Sehat di Desa Sakay Tahun 2025: Healthy Living Community Movement (GERMAS) Education to Improve Healthy Living Behavior in Sakay Village in 2025 Halima, Siti; Dwicahya, Bambang
Jurnal Pengabdian MALEO Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pengabdian Maleo
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tompotika Luwuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51888/maleo.v4i2.451

Abstract

Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan strategi promotif dan preventif untuk mendorong masyarakat menerapkan perilaku hidup sehat sebagai upaya pencegahan penyakit tidak menular. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai tujuan, manfaat, dan penerapan GERMAS dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu kendala dalam membangun budaya hidup sehat di tingkat desa. Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat tentang GERMAS di Desa Sakay, Kecamatan Totikum, Kabupaten Banggai Kepulauan. Metode yang digunakan adalah desain pre-eksperimental dengan pendekatan one group pretest-posttest. Kegiatan melibatkan 62 responden yang dipilih dengan teknik total sampling terhadap peserta yang hadir dan mengisi kuesioner secara lengkap. Intervensi dilakukan melalui penyuluhan edukatif-partisipatif, diskusi, dan tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif melalui distribusi frekuensi dan persentase. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan secara deskriptif. Responden dengan pengetahuan kategori baik meningkat dari 9,7% menjadi 29,0%, kategori cukup meningkat dari 35,5% menjadi 56,1%, sedangkan kategori kurang menurun dari 54,4% menjadi 19,4%. Pada aspek sikap, responden dengan sikap positif meningkat dari 83,9% menjadi 98,4%. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi GERMAS dapat meningkatkan pemahaman dan penerimaan masyarakat terhadap perilaku hidup sehat. Namun, kegiatan lanjutan masih diperlukan agar peningkatan pengetahuan dan sikap dapat berkembang menjadi praktik nyata, seperti aktivitas fisik rutin, konsumsi buah dan sayur, pemeriksaan kesehatan berkala, serta pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular. The Healthy Living Community Movement (GERMAS) is a promotive and preventive strategy aimed at encouraging communities to adopt healthy behaviors as an effort to prevent non-communicable diseases. Limited community understanding of the objectives, benefits, and implementation of GERMAS in daily life remains a challenge in developing a healthy living culture at the village level. This educational activity aimed to improve community knowledge and attitudes regarding GERMAS in Sakay Village, Totikum District, Banggai Kepulauan Regency. The method used was a pre-experimental design with a one-group pretest-posttest approach. The activity involved 62 respondents selected through total sampling among participants who attended the activity and completed the questionnaires. The intervention was conducted through participatory health education, discussion, and question-and-answer sessions. Evaluation was carried out using pre-test and post-test questionnaires, and the data were analyzed descriptively using frequency distributions and percentages. The results showed a descriptive increase in knowledge. Respondents with good knowledge increased from 9.7% to 29.0%, those with moderate knowledge increased from 35.5% to 56.1%, while those with poor knowledge decreased from 54.4% to 19.4%. In terms of attitude, respondents with positive attitudes increased from 83.9% to 98.4%. These findings indicate that GERMAS education can improve community understanding and acceptance of healthy living behaviors. However, follow-up activities are still needed to translate improved knowledge and attitudes into actual practices, such as regular physical activity, fruit and vegetable consumption, periodic health checks, and control of risk factors for non-communicable diseases.