Torrys, Yesyurun Sekundus
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

RIWAYAT TRAUMA MASA KANAK SEBAGAI FAKTOR RISIKO ORIENTASI SEKSUAL PADA KAUM LESBIAN, GAY, BISEXUAL, TRANSGENDER, QUEER+ (LGBTQ): SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIKA Torrys, Yesyurun Sekundus; Kosim, Hartono; Diniari, Ni Ketut Sri
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i2.10417

Abstract

ABSTRACT The development of sexuality and gender issues has shown increasing complexity, particularly in understanding the experiences of LGBTQ+ individuals. Sexual orientation is an important component of identity formation that can be influenced by childhood experiences. This study aims to identify and analyze risk factors of childhood trauma among LGBTQ+ individuals based on recent empirical evidence. The study employed a systematic review method following PRISMA guidelines, drawing from PubMed, Cochrane Library, and Embase databases within the last ten years.A total of 8 studies meeting the inclusion criteria were analyzed, involving 336,042 participants. The results indicate that LGBTQ+ individuals have a higher risk of experiencing childhood trauma compared to heterosexual-cisgender groups, with risk estimates ranging from 1.4 to 3.11. The main finding highlights a consistent increase in the risk of various forms of trauma among LGBTQ+ individuals, particularly sexual abuse, domestic violence, and exposure to family members with mental disorders. These findings confirm that childhood trauma is a significant risk factor contributing to mental health vulnerability among LGBTQ+ individuals. Implications suggest the need for more inclusive and evidence-based mental health services to minimize long-term impacts and improve the quality of life of LGBTQ+ individuals. ABSTRAK Perkembangan isu seksualitas dan gender menunjukkan kompleksitas yang semakin meningkat, khususnya dalam memahami pengalaman individu LGBTQ+. Orientasi seksual merupakan bagian penting dari pembentukan identitas diri yang dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kanak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor risiko trauma masa kanak pada kelompok LGBTQ+ berdasarkan bukti empiris terkini. Studi ini menggunakan metode tinjauan sistematis dengan mengacu pada pedoman PRISMA dan bersumber dari database PubMed, Cochrane Library, dan Embase dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Sebanyak 8 studi yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis dengan total 336.042 partisipan. Hasil menunjukkan bahwa kelompok LGBTQ+ memiliki risiko lebih tinggi mengalami trauma masa kanak dibandingkan kelompok heteroseksual-cisgender, dengan rentang risiko antara 1,4 hingga 3,11. Temuan utama menunjukkan adanya peningkatan risiko yang konsisten pada kelompok LGBTQ+ terhadap berbagai bentuk trauma, terutama kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, serta paparan gangguan mental dalam keluarga. Temuan ini menegaskan bahwa trauma masa kanak merupakan faktor risiko signifikan yang berkontribusi terhadap kerentanan kesehatan mental pada kelompok LGBTQ+. Implikasinya, diperlukan pendekatan layanan kesehatan mental yang lebih inklusif dan berbasis bukti untuk meminimalkan dampak jangka panjang serta meningkatkan kualitas hidup individu LGBTQ+.
CONSIDERATION IN GENERAL ANESTHESIA TOWARDS PATIENT WITH SCHIZOPHRENIA TREATMENT: A CASE REPORT OF PSYCHIATRY-ANESTHESIOLOGY APPROACH Torrys, Yesyurun Sekundus; Wardani, Dinar Kusuma; Charles, Charles; Sutawan, Ida Bagus Krisna Jaya; Wardani, Ida Aju Kusuma
HEALTHY : Jurnal Inovasi Riset Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/healthy.v5i3.10581

Abstract

ABSTRACT Anesthetic management in patients with schizophrenia receiving long-term antipsychotic therapy presents a clinical challenge due to the risk of drug interactions and perioperative complications, including hypotension, arrhythmias, and postoperative delirium. This study aimed to describe perioperative anesthetic management in a schizophrenic patient undergoing elective surgery. The study used a case report approach involving a 43-year-old female patient with left breast cancer and a history of undifferentiated schizophrenia treated with long-term fluphenazine and trifluoperazine therapy. Management included preoperative evaluation, intraoperative anesthesia planning, and postoperative monitoring. The patient underwent general anesthesia using propofol, fentanyl, and atracurium with close hemodynamic monitoring. The results showed that laboratory tests, ECG, and echocardiography were within normal limits, although intraoperative hypotension during induction and mild tachycardia during surgery were observed and successfully controlled without serious complications. Postoperative findings included mild agitation, postural hypotension, and shivering without delirium or severe cardiovascular disturbances. These findings indicate that comprehensive perioperative evaluation and individualized anesthetic strategies are essential to maintain patient stability and ensure surgical safety in schizophrenic patients receiving long-term antipsychotic therapy. ABSTRAK Manajemen anestesi pada pasien skizofrenia dengan terapi antipsikotik jangka panjang menjadi tantangan klinis karena risiko interaksi obat dan komplikasi perioperatif, seperti hipotensi, aritmia, dan delirium pascaoperasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tata laksana anestesi perioperatif pada pasien skizofrenia yang menjalani operasi elektif. Metode yang digunakan berupa laporan kasus pada pasien perempuan usia 43 tahun dengan kanker payudara kiri dan riwayat skizofrenia undifferentiated yang mendapat terapi fluphenazine dan trifluoperazine jangka panjang. Penatalaksanaan meliputi evaluasi praoperatif, anestesi intraoperatif, dan pemantauan pascaoperatif. Pasien menjalani anestesi umum menggunakan propofol, fentanyl, dan atracurium dengan pemantauan hemodinamik ketat. Hasil menunjukkan pemeriksaan laboratorium, EKG, dan ekokardiografi dalam batas normal, dengan komplikasi intraoperatif berupa hipotensi saat induksi dan takikardia ringan yang dapat dikendalikan tanpa komplikasi serius. Pascaoperasi ditemukan agitasi ringan, hipotensi postural, dan menggigil tanpa delirium maupun gangguan kardiovaskular berat. Temuan ini menunjukkan bahwa evaluasi perioperatif yang komprehensif dan strategi anestesi terindividualisasi penting untuk menjaga stabilitas pasien skizofrenia selama tindakan pembedahan.