Dewi, Ni Putu Shinta Utari
Universitas Hindu Negeri 1 Gusti Bagus Sugriwa, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Kemampuan Komunikasi Interpersonal Petugas Pelacakan Kontak (Tracer) COVID-19 di Provinsi Bali Dewi, Ni Putu Shinta Utari; Wulanyani, Ni Made Swasti; Subrata, I Made; Widnyana, Komang Tri Yudartha
Jurnal Yoga dan Kesehatan Vol 9 No 1 (2026)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/jyk.v9i1.5787

Abstract

Pelaksanaan pelacakan kontak COVID-19 di Provinsi Bali belum berjalan optimal, meskipun merupakan salah satu strategi utama dalam pengendalian penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kecerdasan emosional terhadap kemampuan komunikasi interpersonal petugas pelacakan kontak (tracer) COVID-19 di Kota Denpasar, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Gianyar. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan petugas tracer di puskesmas pada ketiga wilayah tersebut. Sampel sebanyak 121 responden dipilih menggunakan teknik total sampling (non-probability sampling). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner elektronik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan analisis deskriptif serta regresi linier sederhana dan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan (81,0%), berusia ≤26 tahun (60,3%), belum menikah (53,7%), berpendidikan sarjana (54,4%), dan memiliki masa kerja ≤3 tahun (58,7%). Mayoritas responden memiliki tingkat kecerdasan emosional yang tinggi serta kemampuan komunikasi interpersonal yang sangat tinggi (61,2%). Analisis menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, masa kerja, dan wilayah kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan komunikasi interpersonal. Dibandingkan dengan Kota Denpasar, kemampuan komunikasi interpersonal di Kabupaten Badung dan Kabupaten Gianyar masing-masing lebih rendah sebesar 5,063 dan 8,015. Meskipun demikian, tingginya kemampuan komunikasi interpersonal secara individu belum sepenuhnya sejalan dengan capaian pelacakan kontak di lapangan yang masih rendah. Hal ini menunjukkan adanya faktor lain di luar individu yang turut memengaruhi keberhasilan pelaksanaan pelacakan kontak. Oleh karena itu, selain peningkatan kapasitas individu melalui pelatihan kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal, diperlukan pula penguatan sistem serta peningkatan kepercayaan masyarakat guna mendukung efektivitas program pelacakan kontak COVID-19. Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Kemampuan Komunikasi Interpersonal, Petugas Pelacakan Kontak (Tracer), COVID-19
External determinants of adolescent sexual behavior among Islamic Boarding School Students in Bali Feni Sulistyawati; Rury Narulita Sari; Ni Putu Widarini; Ni Putu Shinta Utari Dewi; Abdul Hakim
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol. 14 No. 2 (2026)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jnki.2026.14(2).384-398

Abstract

Background: Risky sexual behavior among adolescents is a significant concern for sexual health, even in religious settings such as Islamic boarding schools. Although these institutions provide intensive religious education, students remain exposed to external influences that can shape their sexual behavior. Understanding these external determinants is crucial to addressing sexual risk and promoting the psychosocial well-being of adolescents in pesantren environments. Objectives: To analyze the influence of external factors including parental supervision, peer influence, and access to information on adolescent sexual behavior in Islamic boarding schools in Bali. Methods: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. A total of 127 students with varying lengths of stay in Islamic boarding schools and ages ranging from 15-19 years from two Islamic boarding schools in Bali were selected using a total sampling technique. Data were collected using a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability. The variables used in this study include independent variables, namely external factors consisting of access to information, parental supervision, and peer influence. The independent variable is sexual behavior with three categories: normal, moderate, and severe. Data analysis was carried out using frequency distribution, crosstabulation, and multinomial logistic regression with the non-risk category as a comparison. Results: Access to information and peer influence have a significant effect on severe risky sexual behavior with a p value <0.05. Adolescents with negative access to information were 6.7 times more likely (OR=6.711; 95% CI=1.797-25.065) to engage in high-risk sexual behavior, while those with negative peer influence were 14.8 times more likely (OR=14.838; 95% CI=1.238-177.883). Conclusions: Access to information and peer influence are the main determinants of high-risk sexual behavior among adolescents in Islamic boarding schools in Bali. Prevention efforts need to be directed at strengthening appropriate literacy and establishing peer educators.