Setân merupakan musuh manusia, sebagaimana Allah ingatkan dalam al-Qur’an surah Fathir ayat 6 yang artinya Sesungguhnya setân bagi kalian wahai manusia adalah musuh abadi, maka jadikanlah ia sebagai musuh kalian dengan terus menerus melawannya, salah satu ayat utama tentang tipu daya setân tersebutlah dalam surah Ibrahim ayat 22. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna serta perbedaan dan persamaan penafsiran tentang setân dalam surah Ibrahim ayat 22 menurut Buya Hamka dan Syaikh asy-Sya’rawi. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian pustaka. Sumber primer yang digunakan ialah Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Tafsir asy-Sya’rawi karya Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode komparasi, yaitu membandingkan penafsiran Buya Hamka dengan Syaikh Asy-Sya’rawi tentang setân Dalam Surah Ibrahim Ayat 22. Penafsiran tentang setân didalam surah Ibrahim ayat 22 menurut kitab tafsir Al-Azhar dan tafsir Asy Sya’rawi yaitu sifat suatu makhluk dalam hal ini ialah jin dan manusia, yang durhaka kepada Allah serta mengajak makhluk lainnya mendurhakai Allah, mereka inilah disebut setân. Diantara perbedaan penafsiran tentang setân dalam surah Ibrahim ayat 22 dari kedua mufasir tersebut yaitu makna kalimat maa ana bimusrighikum wamaa antum bisurighi. Sedangkan persamaannya yaitu dari metode keduanya dalam menafsirkan al-Qur’an yaitu mengumpulkan beberapa ayat yang saling berkaitan dengan tema yang dibahas. Persamaan lainya yaitu penafsiran makna kalimat asy-syaithan, dan lamma qudiya amr.
Copyrights © 2023