Keberadaan desa wisata tidak hanya berada didaerah pegunungan atau perbukitan saja tetapi desa wisata bisa berada dipegunungan, dataran dan pesisir (gudasir) idealnya desa wisata dikembangkan menuju katagori desa wisata mandiri menuju SDGs dan berkelanjutan melalui pelibatkan masyarakat setempat sebagai pemilik, dan pelaku, realitas di Kabupaten Lombok Utara baru ada satu desa yang berkatagori mandiri. Upaya membangun dan mengembangkan desa wisata pasca gempa bumi dan Covid 19 mengalami tantangan yang berat, sektor pariwisata termasuk desa wisata terpuruk karena adanya pembatasan orang berkunjung, sebagai alternative untuk berwisata desa wisata dianggap aman. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis potensi desa wisata Gudasir menuju SDGs yang berkelanjutan di Kabupaten Lombok Utara. Metode yang digunakan adalah metode campuran (Mix methods), penentuan basis potensi desa wisata; menggunakan analisis Locatioin Quotient (LQ). Hasil penelitian menunjukkan Dua desa masing-masing desa di kecamatan Baya sebagai desa pegunungan dan desa di kecamatan Tanjung sebagai desa pesisir memiliki posisi kuat dalam pengembangan desa wisata gudasir berkelanjutan dengan skor LQ diatas 1 dan selebinya dibawab 1, potensi dari Sembilan desa wisata yang ada untuk berkembang tujuh desa wisata rintisan berpotensi menjadi desa berkembang berdasarkan kekuatan basis pegunungan, dataran dan pesisir Satu desa berkembang bisa berpotensi mejadi maju dan satu desa maju sangat potensi menjadi desa mandiri yang tersebar di tiga zone pegunungan, dataran dan di Kabupaten Lombok Utara
Copyrights © 2024