Pemikiran kritis terhadap sistem pendidikan formal telah lama menjadi perhatian para filsuf dan tokoh pendidikan, seperti Ivan Illich, Paulo Freire, dan alexander A. Neil. Kritik utama mereka berfokus pada bagaimana institusi pendidikan sering membatasi kreativitas, kebebasan, dan ekspresi individu. Filsafat eksistensialisme menawarkan pendekatan alternatif dengann menekankan kebebasan, tanggung jawab, dan autensitas dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini memandang peserta didik sebagai individu yang unik, yang memiliki potensi untuk memberikan makna pada keberadaannya melalui pengalaman belajar yang personal dan reflektif. Dalam konteks pendidikan, eksistensialisme mendorong pembelajaran yang mendalam, dimana guru bertindak sebagai fasilitator ynag menciptakan ruang bagi dialog, eksplorasi makna hidup, dan pengembangan potensi individu. Kebijakan pendidikan seperti “Merdeka Belajar” di Indonesia menjadi salah satu implementasi konsep ini, dengan menekankan pembelajaran berbasis pengalaman, penghapusan tekanan nilai akademik, serta penguatan karakter siswa. Penerapan pendidikan eksistensialis bertujuan untuk menciptakan individu yang autentik, kritis, dan bertanggung jawab, yang mampu menghadapi tantangan hidup dengan kesadaran penuh. Dengan demikian, filsafat ini menjadi fondasi penting dalam membangun sistem pendidikan yang lebih humanis dan berpusat pada perkembangan holistik manusia Kata Kunci: eksplorasi, eksistensialisme, pendidikan.
Copyrights © 2025