Kegiatan bertujuan untuk menganalisis penerapan terapi musik pada anak tunarungu yang masih memiliki sisa pendengaran. Dua anak yang menjadi subjek penelitian, berinisial H dan T, mengalami hambatan serius dalam kemampuan komunikasi akibat kondisi ketunarunguan yang mereka alami. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini mencakup praktik langsung dan pengujian pendengaran menggunakan benda-benda yang menghasilkan suara, seperti alat musik sederhana dan objek yang memproduksi bunyi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa H dan T mampu mendengar suara, tetapi dengan batasan jarak tertentu; mereka dapat mendengarnya dengan jelas jika suara tersebut didekatkan. Temuan ini menekankan pentingnya terapi musik bagi anak tunarungu, khususnya bagi mereka yang memiliki sisa pendengaran. Dengan pelaksanaan terapi secara berkelanjutan, kemampuan komunikasi dan potensi anak dapat berkembang. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan wawasan untuk pengembangan program terapi yang lebih efektif dan inovatif bagi anak-anak dengan kondisi serupa, serta meningkatkan kualitas interaksi sosial mereka.
Copyrights © 2024