Setiap daerah di Indonesia mempunyai budaya dan rangkaian kesenian tradisionalnya masing-masing yang berkontribusi terhadap kekayaan keanekaragaman negara. Namun sayangnya, generasi muda saat ini kurang antusias untuk mempelajari atau melestarikan seni dan budaya lokal, meskipun mereka berstatus sebagai pewaris budaya. Adanya krisis multidimensi ini yang dialami Indonesia saat ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap perekonomian, politik, dan moral negara. Menanggapi hal tersebut, konsep terkait palang pintu sebagai salah satu unsur kesenian tradisional Betawi yang dapat menumbuhkan rasa persatuan dan solidaritas bangsa pun membuahkan hasil. Dengan menggunakan metode pendekatan fenomenologi hermeneutik, penelitian ini berupaya mengungkapkan makna simbolik dan semantik pada palang pintu Betawi. Palang pintu mewakili banyak hal, antara lain pendidikan agama, integritas, toleransi, kerja sama tim, persahabatan dalam keluarga, serta rasa cinta tanah air. Salah satu cara untuk memasukkan simbol dan makna palang pintu ke dalam pendidikan formal adalah dengan mengajarkan apresiasi sastra di kelas bahasa daerah. Namun, palang pintu dapat digunakan sebagai alat sosialisasi dengan semua kelompok umur, termasuk orang dewasa, dalam lingkungan non-formal seperti keluarga atau komunitas seni. Melalui pendidikan formal dan non formal, tujuannya yaitu untuk menciptakan generasi yang bertanggung jawab, berjiwa kebangsaan, mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara, juga mempunyai nilai keagamaan, kejujuran, gotong royong
Copyrights © 2024