The purpose of this article is to answer whether Tamar's actions, which deceived her father-in-law, Judah, in Genesis 38 are justified from the point of view of Christian ethics. Answering this question can help God's people understand what to consider when making ethical decisions. The method used is a qualitative method with a literature study approach. The author collects data from various literature and then compiles systematic arguments related to the topic. The conclusion is that we could not blame Tamar for her actions since she was only trying to fight for her fate which was oppressed by Judah's indifference. This story teaches us that after God's words, the situation faced by the individual is also important to consider in ethical decision-making. AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjawab pertanyaan apakah tindakan Tamar, yang mengelabui mertuanya, Yehuda, dalam Kejadian 38 dapat dibenarkan dari sudut pandang etika Kristen. Menjawab pertanyaan ini dapat menolong umat Tuhan untuk memahami apa saja yang perlu dipertimbangkan saat mengambil keputusan etis. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian literatur. Penulis mengumpulkan data dari berbagai literatur untuk kemudian menyusun argumentasi yang sistematis terkait topik. Kesimpulannya adalah tindakan Tamar tersebut tidak dapat disalahkan karena ia hanya berupaya memperjuangkan nasibnya yang tertindas oleh ketidakpedulian Yehuda. Pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah ini adalah pentingnya untuk memahami firman Tuhan secara komprehensif dan mempertimbangkan situasi sebelum mengambil keputusan etis. Kata Kunci: Tamar, Yehuda, etika Kristen, keputusan etis, Kejadian 38.
Copyrights © 2025