Penelitian ini mengkaji variasi bahasa dan penggunaan sapaan dalam interaksi sosial di lingkungan Pondok Pesantren, dengan fokus pada cara-cara berbahasa yang mencerminkan nilai-nilai sosial, kesantunan, dan hierarki. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode simak, dengar, dan catat. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif di mana peneliti mengamati interaksi antar santri, ustaz, dan pengasuh dalam berbagai kegiatan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi bahasa dalam bentuk penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa (ngoko dan krama alus) serta sapaan yang memiliki muatan sosial dan religius. Misalnya, sapaan “Bu Nyai” dan “Umi” digunakan untuk menyapa pengasuh wanita, sementara “Gus” dan “Kang” digunakan untuk menyapa pengasuh atau senior pria. Selain itu, terdapat pula penggunaan istilah khas pesantren seperti “ngaos”,“storan hafalan”,"ngaji binadhor" juga muncul sebagai bentuk pembelajaran mengaji langsung dengan membaca Al-Qur'an di hadapan guru, yang menunjukkan kedekatan antara pengajar dan santri dalam proses pembelajaran. Variasi bahasa ini tidak hanya mencerminkan kedekatan atau jarak sosial, tetapi juga menegaskan norma kesantunan dan hubungan hierarkis dalam komunitas pesantren. asil penelitian ini berguna bagi peneliti, pendidik, dan pemerhati bahasa untuk memahami dinamika interaksi sosial dan peran bahasa dalam membentuk tata hubungan sosial yang harmonis dan beradab dalam lingkungan pendidikan pesantren.
Copyrights © 2025