Penelitian ini mengeksplorasi fenomena bias gender dalam pengembangan dan implementasi kecerdasan buatan (AI) dengan pendekatan komunikasi kritis. Dalam praktiknya, AI seringkali direpresentasikan melalui suara dan visual perempuan yang lembut, ramah, dan penurut. Representasi ini bukan hanya mencerminkan konstruksi sosial patriarkis, tetapi juga memperkuat stereotip gender yang mendiskreditkan perempuan sebagai entitas pasif. Penelitian ini menunjukkan bahwa bias gender muncul mulai dari proses pemilihan data pelatihan, algoritma yang digunakan, hingga keputusan desain oleh pengembang teknologi. Melalui analisis wacana kritis terhadap representasi AI, penelitian ini mengungkap bagaimana kekuasaan simbolik bekerja dan memperkuat ketimpangan gender. Ketika AI digunakan dalam proses rekrutmen, pengenalan wajah, atau distribusi layanan publik, bias yang terkandung dalam sistem dapat berdampak sistemik dan memperparah marginalisasi perempuan, terutama dari kelompok minoritas. Penelitian ini menyerukan pentingnya desain AI yang inklusif, etis, dan berkeadilan gender sebagai langkah menuju teknologi yang mampu mendorong kesetaraan sosial.
Copyrights © 2025