Penelitian ini membahas bagaimana media daring membingkai dan merepresentasikan kebijakan rehabilitasi anak bermasalah yang diusung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, melalui pendekatan semiotika dan framing. Kebijakan ini dikenal publik melalui program barak militer bagi anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja seperti geng motor, dan menuai berbagai respons di ruang publik. Dalam konteks ini, media memainkan peran strategis dalam membentuk persepsi masyarakat, baik melalui narasi berita maupun visualisasi simbolik yang menyertainya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menganalisis isi berita dari dua media arus utama, Kompas.com dan Detik.com, yang dipilih berdasarkan jangkauan dan pengaruhnya terhadap opini publik. Analisis framing Pan dan Kosicki digunakan untuk menelusuri struktur penyajian berita, sedangkan pendekatan semiotika Roland Barthes digunakan untuk mengurai makna tanda dan simbol dalam elemen visual pemberitaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Detik.com cenderung membingkai kebijakan tersebut sebagai solusi tegas dan efektif untuk menanggulangi kenakalan remaja, sementara Kompas.com mengangkat sudut pandang yang lebih kritis dan mempertimbangkan aspek perlindungan anak. Representasi visual, seperti pakaian militer, barisan anak-anak, dan gesture tubuh Dedi Mulyadi, dimaknai sebagai simbol kekuasaan, ketertiban, dan maskulinitas. Temuan ini menunjukkan bahwa media tidak hanya menyampaikan kebijakan, tetapi juga menciptakan makna ideologis yang memengaruhi cara publik memahami intervensi negara terhadap anak-anak yang dianggap bermasalah.
Copyrights © 2025