Penelitian ini berangkat dari kegundahan akademik mengenai sosok ulama sentral yang mampu mempengaruhi hampir mayoritas masyarakat banjar. Sehingga penelitian ini bersifat fenomenologi, dengan melakukan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun teknik pengambilan data pada penelitian ini ialah dengan melakukan observasi aktif, wawancara terbuka, hingga dokumentasi. Sehingga hasil penelitian ini memberikan dua garis besar dalam memahami bagaimana relasi kuasa sebagai pisau analisisnya. Yaitu fase keraton sebagai pengumpulan modal untuk membentuk strategi relasi kekuasaan, fase kedua ialah fase sekumpul, sebagai pengatur ritme kewilayahan, peta demografi, pengembangan akhlak, hingga persebaran ajaran akhlak. Sehingga posisi Abah Guru Sekumpul juga mampu menjadi keluarga ditengah-tengah masyarakat, ayah bagi para murid tarekatnya, dan teman sejawat bagi warga Sekumpul dan Banjarmasin pada umumnya.
Copyrights © 2025