Artikel ini bertujuan untuk mengkaji proses integrasi sosial dan rekonstruksi identitas para migran di Kota Ambon pasca konflik sosial yang melanda wilayah tersebut pada awal 2000-an. Kajian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi di kawasan Waringin Cap, Ambon. Hasil kajian menunjukkan bahwa migran lama yang telah bermukim sebelum konflik memiliki sikap akomodatif dan berhasil merekonstruksi identitas diri sebagai bagian dari “orang Ambon,” dengan menanamkan nilai hidup orang basudara sebagai simpul identitas kolektif yang khas. Pasca konflik, integrasi sosial terjadi secara bertahap dengan terbentuknya relasi sosial yang ditandai oleh sikap saling menghargai, kerja sama, dan solidaritas antar sesama migran, baik lama maupun baru. Namun demikian, migran yang datang setelah konflik cenderung memperlihatkan sikap individualistik, emotif, dan reaktif terhadap perbedaan, sehingga menimbulkan potensi keretakan sosial yang meski kecil, tetap berisiko bagi kohesi masyarakat. Peran tokoh agama dan masyarakat terbukti vital dalam menjaga harmoni dan menyelesaikan potensi konflik. Kebaruan dari kajian ini terletak pada penemuan mengenai dinamika konstruksi identitas kultural pasca konflik oleh komunitas migran serta pentingnya integrasi sosial berbasis nilai lokal dalam membangun masyarakat multikultural yang damai. Kajian ini merekomendasikan pentingnya penguatan nilai-nilai lokal seperti hidup orang basudara sebagai fondasi dalam pengembangan teori dan praktik integrasi sosial dalam kajian sosiologi.
Copyrights © 2025