Artikel jurnal ini memaparkan politik di balik kekerasan atas nama agama yang digunakan oleh Taliban dan Afghanistan. Dengan mengungkap peristiwa ini, peneliti mencoba untuk menguak legitimasi pandangan tentang kekerasan atas nama agama dan juga terdapat segi Kepolitikan di Afghanistan mulai berubah setelah Amerika Serikat gagal mendapatkan kesepakatan dan dukungan dari Taliban. Amerika Serikat setiap harinya diharuskan untuk mengimpor minyak sebesar 18,8 juta barrel Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif melalui studi pustaka dengan pendekatan historis-sosiologis dengan lensa teori Max Weber yang melihat adanya kekerasan dalam wacana keagamaan. Dengan menganalisis sejauh mana tingkat gerakan Taliban dalam memobilisasi orang untuk melakukan tindakan kekerasan, penelitian ini menekankan pada analisis historis, yaitu mengumpulkan data tentang kehidupan masyarakat Afghanistan untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. Penelitian ini mengungkap bahwa politik kekerasan digunakan sebagai pedoman untuk tindakan perang dan revolusi mereka yaitu jihad Taliban di Afghanistan. Dalam hal jihad membela agama, mereka salah mengartikan kekerasan atas nama agama. Kekerasan tersebut terjadi karena kurangnya otoritas keagamaan pusat dan disalahgunakan untuk kepentingan politik/kepentingan kelompok atau individu.
Copyrights © 2022