Penelitian ini berangkat dari fenomena muallaf di Surabaya yang sering menghadapi tantangan psikologis berupa kecemasan, penolakan sosial, dan krisis identitas pasca-konversi. Nilai-nilai Islam diyakini dapat menjadi sumber daya spiritual yang memperkuat resiliensi psikologis mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana internalisasi nilai-nilai Islam berperan dalam membangun ketahanan mental muallaf di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan desain studi kasus. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling dengan kriteria muallaf yang telah memeluk Islam minimal enam bulan dan maksimal lima tahun. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan analisis tematik dan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi psikologis muallaf terbentuk melalui tiga dimensi utama, yaitu praktik ibadah personal (shalat, dzikir), interaksi dengan Al-Qur’an sebagai sumber makna, dan dukungan sosial dari komunitas Muslim. Penelitian ini juga menegaskan bahwa internalisasi nilai-nilai Islam secara utuh berperan penting dalam membangun resiliensi psikologis muallaf. Proses ini tidak hanya dipengaruhi oleh aspek individual, tetapi juga ditopang oleh ekosistem sosial dan spiritual yang mendukung. Penelitian ini merekomendasikan perlunya program pembinaan muallaf yang lebih komprehensif, integrasi pendekatan psikospiritual, serta penguatan peran komunitas dalam pendampingan muallaf.
Copyrights © 2025