Keterbatasan pemahaman siswa berkebutuhan khusus mengenai perubahan tubuh dan batasan diri membuat mereka rentan menjadi korban kekerasan seksual. Minimnya pendidikan seksual inklusif memperburuk kondisi ini. Sebelum intervensi, siswa belum mampu membedakan bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, dan guru kesulitan menyampaikan materi sensitif. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai pubertas dan perlindungan diri melalui sosialisasi pendidikan seksual, serta melakukan asesmen tumbuh kembang pada siswa SD kelas 1–2. Program dilaksanakan pada 31 Mei 2025, melibatkan 7 siswa SD dalam asesmen dan 34 siswa SMP–SMA dalam sosialisasi. Metode mencakup persiapan materi ramah disabilitas, pelaksanaan interaktif, serta evaluasi kualitatif. Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman batasan tubuh pribadi dari 26% menjadi 85%, serta peningkatan pengetahuan kebersihan genitalia melalui diskusi dan kuis. Asesmen tumbuh kembang mengidentifikasi gaya belajar dan hambatan perkembangan siswa secara dini. Bagi mitra, kegiatan ini meningkatkan keterampilan guru dalam menyampaikan pendidikan seksual inklusif dan memanfaatkan hasil asesmen untuk strategi pembelajaran individual. Dengan demikian, pendekatan edukasi dan asesmen dini efektif mendukung tumbuh kembang serta perlindungan diri anak berkebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa Negeri 1 Buleleng, Provinsi Bali..
Copyrights © 2025