Kota Palu, yang terletak di wilayah rawan multi-bencana, mengalami kehancuran signifikan pada peristiwa gempa, tsunami, dan likuifaksi tahun 2018. Proses rekonstruksi pasca-bencana yang masif berpotensi mengabaikan aspek tata ruang berkelanjutan, khususnya ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang memegang peran kritis secara ekologis maupun sebagai area evakuasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketersediaan luasan RTH di Kota Palu pasca-bencana 2018. Metode yang digunakan adalah analisis spasial berbasis cloud computing pada platform Google Earth Engine dengan memanfaatkan citra satelit Landsat multi-sensor untuk dua periode (2018 dan 2024). Klasifikasi tutupan lahan dilakukan menggunakan kombinasi indeks NDVI dan NDBI untuk memetakan RTH dan lahan terbangun. Hasil penelitian mengungkapkan penurunan ketersediaan RTH sebesar 858,34 hektar (-2,82%) dan peningkatan lahan terbangun sebesar 828,95 hektar (+24,26%) selama periode 2018–2024, yang menunjukkan pola ekspansi urban (sprawl) dengan konversi langsung dari RTH. Temuan ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi pasca-bencana dan pertumbuhan alami menjadi pendorong utama perubahan tutupan lahan, sehingga diperlukan evaluasi mendalam terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan integrasi kebijakan yang lebih kuat untuk melindungi RTH serta mendukung pembangunan yang tangguh dan berkelanjutan.
Copyrights © 2025