Pemilihan Wali Kota Makassar 2018 menghadirkan anomali dalam sejarah pemilu Indonesia, ketika kotak suara kosong memenangkan pemungutan suara melawan satu-satunya kandidat. Penelitian ini mengeksplorasi motivasi di balik pilihan warga Makassar tersebut, dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara, dokumentasi, dan observasi lapangan. Menggunakan teori pilihan rasional James Coleman, hasil penelitian mengungkap enam motivasi utama: (1) keinginan akan calon pemimpin yang lebih baik di masa depan, (2) ketidakpuasan terhadap visi dan program kandidat, (3) partisipasi dalam kampanye kotak kosong yang berbasis akar rumput, (4) keraguan terhadap kapasitas kepemimpinan kandidat, (5) pengaruh keluarga dan jejaring sosial dalam membentuk pilihan politik, serta (6) penolakan terhadap politik dinasti. Temuan ini menunjukkan meningkatnya kesadaran politik pemilih urban serta penggunaan strategi elektoral sebagai sarana untuk menuntut kualitas kepemimpinan yang lebih baik. Studi ini berkontribusi pada pemahaman rasionalitas pemilih, dinamika elektoral, serta pentingnya gerakan akar rumput dalam memperkuat demokrasi lokal. Rekomendasi kebijakan juga ditawarkan untuk mendorong persaingan elektoral yang sehat dan meningkatkan partisipasi pemilih dalam pemilihan daerah.
Copyrights © 2025