Kelompok Tani Karya Tani merupakan khalayak sasaran program pengabdian kemitraan ini. Pertanian di Desa Sambirejo merupakan pertanian dengan sistem tadah hujan. Petani memanfaatkan air hujan sebagai sumber utama air irigasi. Fokus permasalahan pada kegiatan ini adalah kekurangan sarana produksi terutama power thresher dan tidak tersedianya bangunan bendung untuk menaikkan elevasi muka air pada saluran. Dari hasil survei tim pelaksana, diketahui bahwa muka air irigasi yang ada pada saluran yang melintasi areal pertanian memiliki elevasi yang lebih rendah dari areal pertanian. Hal ini menyebabkan air irigasi yang ada pada saluran tersebut tidak bisa mengalir ke areal pertanian poktan. Untuk menaikkan elevasi air irigasi ini poktan membendung dengan tumpukan tanah, goni, kayu, dan material seadanya yang lain. Selain itu, poktan memiliki kendala saat panen raya. Dengan luas lahan yang dikelola 30 Ha yang hanya didukung oleh ketersediaan sarana power thresher sebanyak 1 unit, untuk panen bisa menghabiskan waktu 30 hari. Hal ini kadang memicu konflik antar petani. Melalui kegiatan ini terjadi peningkatan level keberdayaan mitra dalam: a) Aspek Produksi, dengan tambahan 1 unit power thresher masa produksi gabah bisa menjadi lebih singkat; dan b) Aspek Manajemen, dengan adanya bangunan bendung, air pada saluran yang bersumber dari air hujan bisa dimanfaatkan menjadi sumber air tambahan untuk air irigasi. Selain itu, keberadaan bangunan ini juga bisa menjadi akses lalu lintas ke lahan pertanian, mobilitas alat mesin pertanian, sarana produksi dan mengangkut hasil produk pertanian dari dan ke lahan pertanian.
Copyrights © 2025