Penelitian ini mengkaji tantangan-tantangan yang mempertahankan "ruh puisi" dalam penerjemahan lintas budaya puisi Dulce et Decorum Est karya Wilfred Owen, dengan fokus pada bahasa figuratif sebagai penyampai kritik anti-perang. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, hermeneutik dan stilistika, penelitian ini menganalisis penerjemahan metafora, simile, personifikasi, dan ironi puisi perang Owen ke bahasa Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun kesetiaan struktural tercapai, kesenjangan budaya dan nuansa linguistik menyulitkan pelestarian kedalaman emosional dan pesan ideologis. Penelitian ini membuktikan bahwa terjemahan efektif memerlukan strategi hibrid—menyeimbangkan foreignisasi (untuk konteks sejarah) dan domestikasi (untuk keterbacaan). Tantangan utama mencakup penyampaian ironi Latin "Dulce et decorum est pro patria mori" dan citra perang visceral "bersepatu darah" bagi pembaca Indonesia. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penerjemahan puisi adalah tindakan interpretatif yang memadukan presisi linguistik dan empati budaya, dengan implikasi bagi penerjemahan sastra traumatis lintas batas.
Copyrights © 2025