Orang Batak dikenal sebagai pribadi yang berani berbicara, suka berdiskusi, dan berargumentasi. Berkumpul disebuah warung dengan minum Tuak sering disebut dengan sebutan “Marmitu”, mereka melakukannya di Lapo Tuak. Pengunjung Lapo Tuak pada umunya kebanyakan laki–laki baik itu orang tua atau pun pemuda yang beranjak remaja.Laki-laki Batak mengonsepkan dirinya sebagai orang kuat dan dewasa dan kehadiran di lapo tuak menjadi salah satu tanda kedewasaan. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kualitatif pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan fenomenologi. Fenemonologi langsung menjelaskan secara fakta dan langsung sehingga peneliti langsung terjun serta ikut terlibat didalam Lapo Tuak. Banyak laki-laki Batak di desa Desa Lumban Sialaman Kecamatan Paranginan Kabupaten Humbang Hasundutan yang datang ke lapo tuak merasa bahwa kehadiran mereka di sana adalah bagian dari identitas budaya dan sosial mereka. Meski demikian, tidak semua pengalaman di lapo tuak bersifat positif. Beberapa laki-laki mengalami konflik batin antara nilai-nilai modern seperti profesionalisme, keluarga kecil, dan efisiensi waktu dengan nilai-nilai tradisional yang dihidupi di lapo. Hal ini menciptakan dinamika dalam pembentukan konsep diri, di mana individu harus menyeimbangkan tuntutan budaya dengan realitas kehidupan kontemporer.
Copyrights © 2025