Globalisasi dan urbanisasi telah menjadi tantangan bagi upaya pelestarian warisan budaya di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Penelitian ini mengkaji peran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), sebuah lembaga kebudayaan di bawah Kompas Gramedia, dalam menjaga seni tradisi dan melibatkan masyarakat di tengah dinamika perkembangan kota. Menggunakan metode kualitatif dengan wawancara narasumber, penelitian ini menemukan bahwa BBY berperan sebagai ruang inklusif yang mendukung pelestarian seni tradisi yang sering terpinggirkan. Hal ini sejalan dengan konsep "people-centered museology" yang menjadikan museum atau lembaga budaya sebagai tempat aktif bagi komunitas untuk menjaga tradisi, bukan hanya penyimpanan artefak. BBY juga berupaya menyeimbangkan pelestarian budaya dengan perkembangan kota dan pariwisata. Keterlibatan masyarakat lokal ditekankan sebagai kunci pariwisata berkelanjutan. Secara keseluruhan, BBY memberikan akses dan ruang bagi seniman serta pengrajin tradisi, menciptakan dialog antara kreator dan apresiator. Keterlibatan masyarakat adalah elemen krusial dalam pelestarian budaya, sebagai upaya mempertahankan "patch" budaya lokal di tengah arus modernisasi global. Pelestarian warisan budaya memerlukan keseimbangan antara modernisasi, pelibatan masyarakat, dan pemahaman dinamika lokal untuk memastikan nilai budaya terus diwariskan.
Copyrights © 2024