Kesetaraan gender merupakan isu penting dalam konseling, terutama dalam konteks multibudaya yang menghadirkan beragam tantangan terkait norma sosial dan budaya. Salah satu isu gender yang berpengaruh adalah konsep kanca wingking dalam budaya Jawa, yang secara tradisional menempatkan perempuan dalam ranah domestik. Model integratif dalam konseling memungkinkan konselor untuk mengeksplorasi lebih dalam terkait nilai-nilai budaya yang dibawa oleh konseli. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model integratif dalam konseling multibudaya sebagai strategi dalam mendukung kesetaraan gender, termasuk dalam konteks budaya Jawa yang masih mempertahankan konsep kanca wingking. Metode penelitian yaitu metode penelitian kualitatif deskriptif  menggunakan literatur terkait konseling multibudaya, model integratif, dan isu gender kanca wingking. Hasil kajian menunjukkan bahwa model integratif dapat membantu konselor dalam menangani permasalahan gender secara lebih komprehensif. Dengan demikian, model ini menjadi pendekatan yang relevan dalam praktik konseling yang berorientasi pada keadilan gender.
Copyrights © 2025