Kehamilan pranikah pada remaja dari keluarga broken home merupakan fenomena yang kompleks dan sarat dengan dinamika psikologis. Kondisi keluarga yang tidak harmonis memperburuk kerentanan emosional remaja dan memengaruhi proses penerimaan diri mereka. Penelitian ini bertujuan mengungkap makna penerimaan diri pada remaja perempuan yang mengalami kehamilan di luar perkawinan dalam konteks keluarga broken home. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan untuk menggali pengalaman subjektif secara mendalam. Sebanyak 20 informan dipilih melalui proses penyaringan bertahap dari 100 remaja di Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik menggunakan NVivo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerimaan diri berkembang melalui beberapa fase utama, dimulai dari reaksi emosional negatif yang intens seperti panik, syok, takut, dan malu, disusul dengan upaya memahami keadaan melalui pencarian informasi dan dukungan sosial. Strategi regulasi emosi internal seperti menenangkan diri, menulis, atau menarik diri muncul sebagai respons awal untuk menghadapi kecemasan di tengah konflik keluarga. Seiring waktu, penerimaan diri terbentuk melalui dukungan dari figur aman, terutama ibu, serta jejaring sosial alternatif seperti teman, guru BK, dan komunitas religius. Penerimaan diri ini pada akhirnya menghasilkan peningkatan ketahanan emosional, pengurangan self-blame, dan kemunculan perspektif positif terhadap masa depan. Penelitian ini menegaskan bahwa penerimaan diri remaja hamil tidak hanya merupakan proses psikologis individual, tetapi sangat dipengaruhi konteks relasional dan dukungan sosial yang tersedia. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi konselor, pekerja sosial, dan lembaga pendidikan untuk merancang intervensi yang lebih empatik, berfokus pada penguatan dukungan emosional, dan sensitif terhadap kondisi keluarga remaja.
Copyrights © 2025