Keterbacaan (readability) menunjuk pada derajat kemudahan sebuah tulisan untuk dipahami maksudnya. Produk terjemahan tidak hanya melibatkan pengalihan kata-kata, tetapi juga harus memperhatikan konteks dan tingkat pemahaman anak. Peraturan No. 030/P/2022, Pedoman Penjenjangan Buku, menetapkan tingkat bacaan untuk anak-anak berdasarkan jenjang pendidikan mereka. Ini mengarah pada struktur kata, farasa, klausa, dan kalimat yang digunakan untuk menceritakan kisah anak tersebut didasarkan pada jenjang pembacanya. Namun Ada beberapa pedoman yang sesuai dan tidak sesuai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat keterbacaan dari terjemahan cerita anak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan mengambil objek kajian berupa terjemahan cerita anak pada web penjaring. Teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, analisis dokumen. Sumber data dokumen mencakup terjemahan cerita anak pada jenjang pembaca dini hingga pembaca madya dan responden yang merupakan anak-anak untuk menguji tingkat keterbacaan terjemahan cerita anak dari berbagai jenjang. Data terdiri atas kompleksitas kalimat dan leksis yang mencakup hanya terbatas pada contentword dan tingkat keterbacaan cerita anak. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah analisis dokumen dan wawancara yangmelibatkan anak-anak untuk menguji aspek keterbacaan terjemahan cerita anak. Penelitian ini menerapkan metode Spradley untuk analisis data yang berupa analisis domain, taksonomi, komponensial, dan tema-budaya. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa nilai keterbacaan pada terjemahan cerita anak tergolong tinggi. Keterbacaan pembaca dini mencapai nilai 2,97, pembaca awal dengan nilai 2,57, pembaca semenjana dengan nilai 2,87 dan pembaca madya dengan nilai 2,93.
Copyrights © 2025