Paradigma keilmuan modern telah menciptakan dikotomi tajam antara ilmu agama dan ilmu umum, menyebabkan keilmuan Islam menjadi terlalu tekstual dan normatif, sementara sains sekuler kehilangan landasan etika dan transendensi. Untuk mengatasi hal ini, konsep pengilmuan Islam Kuntowijoyo menawarkan alternatif fondasional yang berbeda dari pendekatan reaktif "islamisasi ilmu". Alih-alih sekadar menambahkan nilai-nilai Islam ke dalam kerangka Barat yang sudah ada, pengilmuan Islam mengambil inti epistemologisnya dari wahyu Ilahi, menerjemahkan prinsip-prinsip Al-Qur'an menjadi teori-teori ilmiah yang rasional, empiris, dan berorientasi sejarah. Proses ini dipandu oleh Trilogi Profetik Kuntowijoyo humanisasi, liberasi, dan transendensi yang memastikan ilmu pengetahuan melayani martabat manusia, keadilan sosial, dan orientasi ketuhanan. Penelitian ini, yang menggunakan studi kepustakaan kualitatif, menunjukkan bahwa pengilmuan Islam menyediakan kerangka terpadu yang koheren untuk pendidikan tinggi Islam (PTKI). Implementasinya dapat dilakukan melalui integrasi kurikulum, metodologi penelitian multidisiplin yang menyelaraskan wahyu dan akal, serta penerapan praktis dalam bidang-bidang seperti ekonomi (keuangan Syariah) dan pendidikan. Pada akhirnya, integrasi ini bukan hanya akademis, melainkan sebuah visi yang diperlukan untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang membangun peradaban dan membimbing manusia menuju nilai-nilai ilahiah
Copyrights © 2026