Penelitian ini bertujuan untuk menggali pelaksanaan deteksi dini perkembangan anak usia 5–6 tahun di Desa Tanjung Anom Medan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Fokus penelitian meliputi peran guru PAUD, orang tua, dan tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi tanda-tanda keterlambatan perkembangan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi, lalu dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Temuan menunjukkan bahwa meskipun ketiga kelompok berperan, koordinasi dan kerja sama antar mereka masih kurang maksimal. Guru PAUD lebih mengandalkan pengamatan informal tanpa menggunakan alat skrining resmi, sementara pemahaman orang tua tentang pentingnya deteksi dini masih terbatas dan sosialisasi dari tenaga kesehatan belum optimal. Faktor budaya setempat juga memengaruhi cara pandang orang tua terhadap perkembangan anak. Penelitian ini merekomendasikan pelatihan untuk guru, sosialisasi bagi orang tua, peningkatan koordinasi lintas sektor, serta pendekatan yang mempertimbangkan nilai budaya lokal agar program deteksi dini tumbuh kembang dapat berjalan lebih efektif. Hasil penelitian diharapkan memberi kontribusi bagi penguatan program SDIDTK di komunitas tersebut.
Copyrights © 2025