Penggunaan kata kerja transitif dalam kalimat merupakan aspek penting dalam keterampilan bahasa siswa sekolah menengah, terutama dalam menulis dan berbicara. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa masih mengalami kesulitan dalam memilih, mengidentifikasi, dan menggunakan kata kerja transitif secara tepat akibat pemahaman yang rendah terhadap konsep morfologis dan kurangnya latihan analitis. Model kelas terbalik menawarkan solusi melalui pola pembelajaran terbalik, yaitu penyediaan materi secara mandiri sebelum pembelajaran tatap muka dan penggunaan waktu kelas untuk analisis, diskusi, dan latihan intensif. Artikel ini mengkaji efektivitas penerapan model kelas terbalik dalam meningkatkan kemampuan siswa [SS1] dalam menggunakan kata kerja transitif melalui pendekatan morfologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas terbalik mampu meningkatkan kesiapan belajar, pemahaman konsep kata kerja transitif, ketepatan penggunaan afiks, dan kualitas konstruksi kalimat siswa. Oleh karena itu, model ini dapat menjadi strategi alternatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang lebih interaktif, konstruktif, dan berpusat pada siswa
Copyrights © 2025