Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kasus penganiayaan terhadap umat Kristen di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat, yang menunjukkan ketegangan antara jaminan kebebasan beragama dan realitas sosial di lapangan. Kondisi tersebut menimbulkan tantangan teologis dan pastoral bagi gereja dalam membina jemaat agar tetap setia dan berpengharapan di tengah tekanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menafsirkan Matius 5:10–12 secara teologis serta mengkontekstualisasikannya bagi pembentukan ketahanan iman jemaat di masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan hermeneutik teologis dan pastoral kontekstual, melalui tiga tahap: eksposisi teks biblika, analisis konteks sosial-keagamaan, dan refleksi pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderitaan karena kebenaran merupakan bagian dari kerohanian murid Kristus yang meneguhkan identitas gereja sebagai komunitas salib. Ketahanan iman jemaat dibentuk melalui lima dimensi utama: pengalaman rohani yang otentik, komunitas gereja yang suportif, pengajaran teologis yang kontekstual, kepemimpinan rohani yang empatik dan profetik, serta kesadaran eskatologis yang menumbuhkan pengharapan. Penelitian ini menegaskan bahwa gereja di Indonesia dipanggil untuk mengembangkan model pembinaan pastoral integratif yang mampu mengubah penderitaan menjadi sarana pembentukan iman dan kesaksian Kristus di tengah dunia yang menolak kebenaran.
Copyrights © 2025