Fenomena bullying masih menjadi salah satu persoalan sosial yang sering dijumpai di lingkungan sekolah. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa meskipun program anti-bullying telah banyak dilaksanakan, efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh konteks lokal, budaya sekolah, serta keterlibatan guru dan orang tua. MI Al-Mukrimin Talaga Desa Sengeng Palie Kecamatan Lappariaja dipilih sebagai lokasi pengabdian karena hasil observasi awal dan wawancara dengan guru menunjukkan kasus perundungan, khususnya dalam bentuk verbal dan sosial, yang relatif lebih menonjol dibandingkan sekolah sekitar. Hal ini menegaskan adanya gap kontekstual yang perlu diintervensi secara khusus melalui pendekatan partisipatif untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman. Bullying dapat muncul dalam bentuk fisik, verbal, sosial, maupun cyber, dengan dampak negatif bagi korban, pelaku, maupun saksi, mulai dari trauma psikologis, penurunan prestasi akademik, hingga gangguan emosi jangka panjang. Kegiatan pengabdian ini menggunakan metode sosialisasi berbasis partisipatif dengan tahapan observasi, penyusunan materi, serta pembelajaran interaktif melalui presentasi, video, diskusi, simulasi, dan permainan edukatif. Hasil wawancara menunjukkan adanya peningkatan kesadaran siswa mengenai bentuk, dampak, dan strategi pencegahan bullying. Siswa juga lebih aktif dalam diskusi, menunjukkan empati, dan berani menolak perilaku perundungan. Temuan ini sejalan dengan penelitian terdahulu mengenai efektivitas pembelajaran partisipatif dan berbasis pengalaman dalam menumbuhkan karakter positif, sekaligus memberikan bukti kontekstual baru pada sekolah dasar di wilayah pedesaan. Dengan demikian, sosialisasi anti-bullying di MI Al-Mukrimin tidak hanya meningkatkan pemahaman dan empati siswa, tetapi juga mendukung terbentuknya budaya sekolah yang ramah anak, aman, dan bebas dari perundungan
Copyrights © 2026