Rumah Tradisional Adat Bendang di Air Tiris merupakan salah satu bentuk arsitektur vernakular Melayu yang berkembang sebagai respons terhadap kondisi lingkungan, iklim, dan budaya lokal. Namun, dalam praktik arsitektur kontemporer, nilai-nilai konstruktif dan makna tektonik bangunan tradisional sering kali tereduksi menjadi sekadar representasi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip tektonika arsitektur dalam perancangan rumah bendang di Air Tiris dengan meninjau hubungan antara struktur, konstruksi, material, dan ekspresi arsitektural. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi langsung terhadap elemen bangunan, dokumentasi visual, serta kajian literatur mengenai tektonika arsitektur, khususnya pemikiran Kenneth Frampton dan Y.B. Mangunwijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah bendang menerapkan prinsip kejujuran struktur melalui sistem rumah panggung dan struktur kayu yang terekspos, konstruksi ringan pada bagian atas bangunan, serta penggunaan material lokal dengan teknik pertukangan tradisional. Elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga membentuk ekspresi arsitektur yang menyatu dengan konteks lingkungan dan sosial masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa rumah bendang Air Tiris merupakan manifestasi tektonika arsitektur yang lahir secara organik dari budaya lokal dan memiliki relevansi tinggi sebagai rujukan konseptual dalam perancangan arsitektur kontekstual dan berkelanjutan di Indonesia.
Copyrights © 2026