Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Penerapan Arsitektur Salutogenik pada Bangunan Community Hub Lansia di Pekanbaru Wahyuni, Febri; Imbardi, Imbardi; Atika, Mutiara Yaumil
JAUR (JOURNAL OF ARCHITECTURE AND URBANISM RESEARCH) Vol. 9 No. 1 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jaur.v9i1.14201

Abstract

Increasing age in the elderly is often accompanied by various multidimensional challenges that include physical, psychological and social aspects, thus having the potential to significantly reduce their quality of life. In line with increasing life expectancy and the increasing elderly population, modern life which increasingly emphasizes independence and individualism triggers social trends that can worsen the conditions of the elderly, such as increasing the risk of social isolation, alienation and reducing their role and involvement in the community. This phenomenon demands an environmental design strategy that not only provides elderly-friendly facilities, but is also able to accommodate the needs of the elderly holistically. The Elderly Community Hub concept with a Salutogenic Architecture approach was developed as a response to this challenge, with the aim of creating an environment that actively supports the physical, mental and social health of elderly people through design oriented towards improving the quality of life. This design is designed to integrate elements of health, social interaction and recreational activities in a sustainable manner, so as to be able to build an inclusive ecosystem that empowers the elderly in social life.
Penerapan Elemen Arsitektur Melayu dalam Perencanaan Pusat Umkm: Kawasan Waduk Cipta Karya Pekanbaru Ramadani, Ummi fadhilah; Repi, Repi; Atika, Mutiara Yaumil
Jurnal Linears Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/x2170d87

Abstract

ABSTRAK: Arsitektur Melayu merupakan representasi identitas budaya yang sarat nilai historis, estetis, dan filosofis, sekaligus adaptif terhadap iklim tropis. Namun, perkembangan kota Pekanbaru menyebabkan berkurangnya bangunan berarsitektur Melayu sehingga identitas budaya mulai memudar. Penelitian ini bertujuan merumuskan konsep perencanaan Pusat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Waduk Cipta Karya dengan mengintegrasikan elemen arsitektur Melayu sebagai strategi pelestarian budaya sekaligus penguatan ekonomi lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara dengan tokoh masyarakat, pelaku UMKM, serta perwakilan instansi terkait, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menekankan tiga elemen utama arsitektur Melayu, yaitu atap dengan tipologi lipat dan limas, tata ruang serta ornamen khas, dan rumah panggung. Elemen-elemen ini ditransformasikan dalam desain modern yang mencakup analisis tapak, iklim, vegetasi, serta zoning kawasan untuk menciptakan ruang fungsional, estetis, dan selaras dengan budaya lokal. Konsep ini diharapkan mendukung perkembangan UMKM, memperkuat citra budaya Melayu, serta meningkatkan daya tarik wisata berbasis budaya di Pekanbaru.   ABSTRACT: Malay architecture represents a cultural identity rich in historical, aesthetic, and philosophical values while remaining adaptive to the tropical climate. However, the rapid development of Pekanbaru has reduced the presence of Malay-style buildings, leading to the fading of local cultural identity. This study aims to formulate a planning concept for a Micro, Small, and Medium Enterprises (MSME) Center at the Cipta Karya Reservoir area by integrating elements of Malay architecture as both a cultural preservation strategy and a means of strengthening the local economy. A qualitative approach was employed through field observations and interviews with community leaders, MSME actors, and relevant government representatives, followed by thematic analysis. The findings highlight three main elements of Malay architecture: roof typologies such as folded and pyramid forms, spatial organization with distinctive ornaments, and stilt-house structures. These elements were transformed into a modern design encompassing site analysis, climate adaptation, vegetation, and zoning to create functional, aesthetic, and culturally aligned spaces. The proposed concept is expected to support MSME development, reinforce Malay cultural identity, and enhance Pekanbaru’s cultural tourism appeal.  
Penerapan Prinsip Tektonika Arsitektur dalam Perancangan Rumah Tradisional Adat Bendang di Air Tiris, Riau Herdiansyah, Andrie; Nurdin, Apriliana Hidayati; Atika, Mutiara Yaumil; Imbardi, Imbardi
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.6117

Abstract

Rumah Tradisional Adat Bendang di Air Tiris merupakan salah satu bentuk arsitektur vernakular Melayu yang berkembang sebagai respons terhadap kondisi lingkungan, iklim, dan budaya lokal. Namun, dalam praktik arsitektur kontemporer, nilai-nilai konstruktif dan makna tektonik bangunan tradisional sering kali tereduksi menjadi sekadar representasi visual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan prinsip tektonika arsitektur dalam perancangan rumah bendang di Air Tiris dengan meninjau hubungan antara struktur, konstruksi, material, dan ekspresi arsitektural. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi langsung terhadap elemen bangunan, dokumentasi visual, serta kajian literatur mengenai tektonika arsitektur, khususnya pemikiran Kenneth Frampton dan Y.B. Mangunwijaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah bendang menerapkan prinsip kejujuran struktur melalui sistem rumah panggung dan struktur kayu yang terekspos, konstruksi ringan pada bagian atas bangunan, serta penggunaan material lokal dengan teknik pertukangan tradisional. Elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga membentuk ekspresi arsitektur yang menyatu dengan konteks lingkungan dan sosial masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa rumah bendang Air Tiris merupakan manifestasi tektonika arsitektur yang lahir secara organik dari budaya lokal dan memiliki relevansi tinggi sebagai rujukan konseptual dalam perancangan arsitektur kontekstual dan berkelanjutan di Indonesia.