Penelitian ini mengkaji tantangan epistemologis yang muncul dari penerapan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan Islam, khususnya potensi reduksi terhadap konsep hikmah. Permasalahan utamanya adalah pergeseran model pengetahuan dari pemahaman spiritual yang mendalam menjadi sekadar pemrosesan informasi berbasis data. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis secara kritis perbedaan fundamental antara arsitektur pengetahuan AI dengan epistemologi hikmah dalam tradisi Islam. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research) dan analisis konseptual-filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan mendasar pada level ontologi, epistemologi, dan aksiologi antara 'hikmah' yang bersifat teologis dan transformatif dengan pengetahuan AI yang berbasis pada probabilitas statistik dan efisiensi. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun AI menawarkan kemudahan akses informasi, ia berisiko mendangkalkan proses belajar agama. Oleh karena itu, diperlukan sebuah kerangka pedagogis di mana AI diposisikan sebagai asisten informasional, sementara peran guru diperkuat sebagai fasilitator 'hikmah' untuk menjaga kedalaman spiritual dalam pendidikan.
Copyrights © 2025