Penggunaan bahasa Banjar di sekolah dasar semakin berkurang akibat dominasi bahasa nasional dan pengaruh digitalisasi, sehingga upaya pelestarian bahasa daerah menjadi kurang optimal. Kondisi ini berdampak pada melemahnya pengembangan karakter dan keterampilan abad ke-21 yang seharusnya dapat dibangun melalui pembiasaan budaya lokal. Untuk menjawab permasalahan tersebut, sekolah melaksanakan program Bapandung sebagai strategi penguatan bahasa dan budaya Banjar dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi program Bapandung serta menganalisis dampaknya terhadap keterampilan 6C (Critical thinking, Creativity, Collaboration, Communication, Citizenship, dan Character) siswa sekolah dasar. Penelitian dilakukan di SDN Telaga Biru 5 Banjarmasin dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan kepala sekolah, guru, dan siswa kelas I hingga VI. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Bapandung meningkatkan kemampuan komunikasi siswa dalam bahasa daerah, menumbuhkan kepercayaan diri, kreativitas, dan kolaborasi, serta memperkuat hubungan sosial di lingkungan sekolah. Guru menjadi lebih inovatif dalam mengintegrasikan nilai bahasa dan budaya Banjar ke pembelajaran. Secara keseluruhan, program Bapandung efektif dalam pelestarian budaya daerah sekaligus mengembangkan keterampilan abad ke-21 siswa.
Copyrights © 2025