Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintsah baru menjadi kebijakan publik yang sangat sentral dan kontroversial, memicu perdebatan sengit mengenai alokasi anggaran triliunan rupiah dan efektivitas implementasi di lapangan. Dalam konteks ini, media massa memiliki peran krusial sebagai agen yang mengolah dan menyajikan isu tersebut, yang secara langsung memengaruhi cara publik memahami dan menyikapi program nasional ini. Meskipun teori framing telah mapan menjelaskan bagaimana media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas, masih terdapat kesenjangan dalam literatur komparatif yang secara sistematis membedah bagaimana dua media besar Indonesia dengan orientasi editorial yang kontras (institusional vs. investigatif) mengkonstruksi realitas kebijakan high-profile kontemporer seperti MBG. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara komparatif framing pemberitaan MBG pada Kompas.com dan Tempo.co, serta mengidentifikasi implikasi konstruksi realitas yang berbeda tersebut terhadap dinamika pembentukan opini publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Framing Model Robert N. Entman (1993). Instrumen utama yang digunakan adalah matriks analisis Entman yang terstruktur, meliputi empat elemen: Definisi Masalah, Diagnosis Penyebab, Penilaian Moral, dan Rekomendasi Penanganan. Hasil penelitian menunjukkan adanya polaritas framing yang tajam. Kompas.com menggunakan Bingkai Investasi Pembangunan, mendefinisikan masalah sebagai Krisis Gizi dan Stunting (Define Problem) dan menilai program ini Sangat Positif (Moral Judgment). Sebaliknya, Tempo.co menggunakan Bingkai Akuntabilitas Kritis, mendefinisikan masalah sebagai Risiko Anggaran dan Tata Kelola Keuangan Negara (Define Problem) dan menilai program ini Skeptis atau Gimmick Politik (Moral Judgment). Perbedaan signifikan terletak pada fokus isu (outcome gizi vs. input anggaran) dan evaluasi program (legitimasi vs. kritik).
Copyrights © 2025