Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Implementation of Nonverbal Communication in the Learning Process in Higher Education I Putu Gede Buda Mardiksa Putra; Ni Made Juliani; I Nyoman Alit Putrawan
Samā Jiva Jnānam (International Journal of Social Studies) Vol. 2 No. 2 (2024): Vol. 2 No. 2 2024
Publisher : Fakultas Dharma Duta UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/ijoss.v2i2.4225

Abstract

This study explores the implementation of nonverbal communication in the learning process within higher education. Nonverbal communication, including eye contact, gestures, facial expressions, and body language, plays a crucial role in enhancing student engagement, comprehension, and classroom dynamics. The research employed a qualitative approach, collecting data through in-depth interviews with 50 students and classroom observations. The findings indicate that positive nonverbal behaviors from instructors—such as maintaining eye contact, using gestures, and showing enthusiasm—significantly enhance students' attention and motivation. Additionally, nonverbal communication was found to help clarify complex concepts, supporting student understanding. However, the study also highlights the need for cultural sensitivity, as students from diverse backgrounds may interpret nonverbal cues differently. Furthermore, the challenges of online and hybrid learning environments emphasize the necessity for educators to adapt their communication strategies, relying more on vocal cues and digital tools to maintain student engagement. The research concludes that nonverbal communication is essential for effective teaching and should be emphasized in professional development programs for educators. By focusing on these strategies, higher education can create more inclusive and engaging learning experiences.
Analisis Framing Berita Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Media Online Kompas.com dan Tempo.co : Implikasi Konstruksi Realitas terhadap Opini Publik I Gusti Ayu Putri Trisnayanti; Astuti Wijayanti; I Putu Gede Buda Mardiksa Putra
JPNM Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin Vol. 3 No. 4 (2025): December : Jurnal Pustaka Nusantara Multidisiplin (ACCEPTED)
Publisher : SM Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59945/jpnm.v3i4.790

Abstract

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan oleh pemerintsah baru menjadi kebijakan publik yang sangat sentral dan kontroversial, memicu perdebatan sengit mengenai alokasi anggaran triliunan rupiah dan efektivitas implementasi di lapangan. Dalam konteks ini, media massa memiliki peran krusial sebagai agen yang mengolah dan menyajikan isu tersebut, yang secara langsung memengaruhi cara publik memahami dan menyikapi program nasional ini. Meskipun teori framing telah mapan menjelaskan bagaimana media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas, masih terdapat kesenjangan dalam literatur komparatif yang secara sistematis membedah bagaimana dua media besar Indonesia dengan orientasi editorial yang kontras (institusional vs. investigatif) mengkonstruksi realitas kebijakan high-profile kontemporer seperti MBG. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan secara komparatif framing pemberitaan MBG pada Kompas.com dan Tempo.co, serta mengidentifikasi implikasi konstruksi realitas yang berbeda tersebut terhadap dinamika pembentukan opini publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Analisis Framing Model Robert N. Entman (1993). Instrumen utama yang digunakan adalah matriks analisis Entman yang terstruktur, meliputi empat elemen: Definisi Masalah, Diagnosis Penyebab, Penilaian Moral, dan Rekomendasi Penanganan. Hasil penelitian menunjukkan adanya polaritas framing yang tajam. Kompas.com menggunakan Bingkai Investasi Pembangunan, mendefinisikan masalah sebagai Krisis Gizi dan Stunting (Define Problem) dan menilai program ini Sangat Positif (Moral Judgment). Sebaliknya, Tempo.co menggunakan Bingkai Akuntabilitas Kritis, mendefinisikan masalah sebagai Risiko Anggaran dan Tata Kelola Keuangan Negara (Define Problem) dan menilai program ini Skeptis atau Gimmick Politik (Moral Judgment). Perbedaan signifikan terletak pada fokus isu (outcome gizi vs. input anggaran) dan evaluasi program (legitimasi vs. kritik).
Media Sosial Dan Self Diagnotic Remaja Gede Satya Wicaksana; Ni Made Indiana; I Putu Gede Buda Mardiksa Putra
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.3600

Abstract

Pendidikan saat ini memang begitu berharga sebab dengan pendidikan orang akan tau mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Pendidikan sebagai jembatan untuk mengajarkan berbagai hal yang membuat seseorang menjadi lebih baik. Dimulai dari keluarga sebagai tempat pertama menimba ilmu dari orang tua, sebab anak kecil sebagai kertas putih yang masih bersih tidak ada coretan sehingga apa yang diajari oleh orang tuanya begitupun yang diikutinya. Tidak jarang banyak yang tidak berhasil dengan tugas ini. Begitu pentingnya pendidikan dan pengawasan orang tua yang nantinya dilanjutkan dengan pendidikan di sekolah. Sekolah sebagai media pembelajaran diri, pengajaran tentang ilmu, etika, tata krama dan juga sosialisasi. Lingkungan keluarga menjadi penentu orang itu akan menjadi pribadi yang baik ataupun tidak karena jika keluarga yang suka bertengkar bahkan di depan anaknya, membuat anak akan trauma dan cenderung tingkat emosinya lebih tinggi. Namun beda halnya dengan orangtua yang harmonis, mengasuh anak dengan baik, rukun pasti anak tersebut akan menjadi pribadi yang baik. Seseorang yang berpribadi baik kemudian mengeyam pendidikan di sekolah akan semakin menambah pengetahuan dan dengan bersekolah seseorang bisa diakui keberadaannya oleh orang lain. Manusia yang seutuhnya ditempa dengan sekolah dan pendidikan supaya peserta didik mampu berkembang, baik kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Ketiganya harus diseimbangkan. Emosional anak juga sangat bergantung pada media sosial karena di zaman sekarang ini banyak yang mengdiagnosa dirinya telah mengalami gangguan tanpa memeriksakan ke psikiater dan juga dokter. Pemanfaatan media sosial yng kurang tepat menjadi pemicu munculnya tindakan self diagnostic ini. Kemahiran dalam mencari informasi kesehatan di internet dan media sosial mengenai informasi kesehatan mental. Hasil survey yang didapatkan perancang pada april 2021, sebanyak 60% dari 100 remaja generasi Z pertama kali mengetahui penyakit mental melalui media sosial , kemudian 39% mengetahui telah memiliki penyakit mental melalui media sosial, sedangkan 27,6% lainnya melalui website kesehatan yang diakses melalui internet dan 3,8 berasal dari diagnose tenaga ahli.