Tingginya angka kesakitan dan kematian balita akibat pneumonia di Indonesia masih menjadi perhatian serius, di mana rendahnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif merupakan faktor risiko utama. Meski data nasional menunjukkan capaian 70,7%, tantangan di tingkat komunitas seperti pengetahuan yang minim dan praktik menyusui yang tidak optimal masih menghambat pencegahan efektif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Tambakagung, Kabupaten Mojokerto, untuk menjawab permasalahan tersebut melalui intervensi yang terintegrasi antara peningkatan kemampuan menyusui dan literasi kesehatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan praktik menyusui dan pengetahuan ibu tentang pencegahan pneumonia pada balita melalui pendekatan pendampingan intensif. Capaian yang diharapkan adalah transformasi signifikan pada kedua aspek tersebut, sehingga berkontribusi pada keberhasilan ASI eksklusif dan penurunan risiko pneumonia. Menggunakan desain intervensi partisipatif dengan 18 ibu menyusui sebagai peserta selama September 2025. Metode utama mencakup edukasi interaktif melalui workshop dan pendampingan personal (breastfeeding coach) berupa kunjungan rumah mingguan dan dukungan grup WhatsApp. Evaluasi dilakukan dengan observasi langsung menggunakan checklist dan tes pengetahuan (pre-test post-test) untuk mengukur peningkatan kemampuan dan pengetahuan. Hasil menunjukkan peningkatan yang dramatis. Kemampuan praktik menyusui mengalami transformasi dari dominasi kategori kurang (66,7%) menjadi dominasi kategori baik (77,8%). Secara paralel, pengetahuan tentang pneumonia mengalami peningkatan dimana kategori kurang (77,8%) hilang dan kategori baik melonjak dari 5,5% menjadi 72,2%. Data ini membuktikan efektivitas model intervensi yang diterapkan. Keberhasilan kegiatan mengonfirmasi bahwa pendekatan edukasi yang dikombinasikan dengan coaching intensif efektif membangun self-efficacy dan pengetahuan ibu. Teori Social Cognitive Theory dan Health Belief Model menjelaskan mekanisme perubahan melalui penguasaan pengalaman, dukungan sosial, dan peningkatan persepsi risiko. Untuk keberlanjutan, model ini perlu diintegrasikan ke dalam sistem layanan kesehatan primer dan program pemberdayaan komunitas, sehingga dapat direplikasi sebagai strategi berbasis bukti dalam upaya nasional menurunkan morbiditas dan mortalitas balita
Copyrights © 2025