Latar Belakang: Fisioterapis merupakan tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi mengalami gangguan muskuloskeletal, terutama pada area leher akibat aktivitas manual therapy, mobilisasi pasien, serta postur kerja yang tidak ergonomis. Gangguan muskuloskeletal pada fisioterapis dilaporkan terjadi pada berbagai negara, dengan prevalensi yang tinggi pada area leher. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, dimana proses pengumpulan data baik variabel dependen dan variabel independent dilakukan secara bersamaan pada suatu waktu tertentu. dengan besar sampel 147 penderita Nyeri leher di Rumah Sakit wilayah Jawa Timur, dipilih melalui purposive sampling. Variabel penelitian meliputi beban kerja sebagai variabel independen serta nyeri leher sebagai variabel dependen, instrumen penelitian berupa kuesioner dan data dianalisis menggunakan kolerasi regresi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara beban kerja dengan nyeri leher (p value : 0,001) pada Fisioterapis di rumah sakit wilayah Jawa Timur. Saran: Fisioterapis dianjurkan melakukan peregangan saat tidak sedang menangani pasien untuk membantu mengurangi risiko munculnya nyeri leher yang dapat berdampak negatif.
Copyrights © 2025