Gramsci menjelaskan sastra adalah bagian dari dunia gagasan yang memuat ideologi di dalamnya. Dalam dinamika hubungan antarideologi, terdapat proses pemertahanan kekuasaan ideologi dominan terhadap ideologi subordinat. Pemertahanan ini dapat dilakukan dengan cara kekerasan (dominasi) maupun negosiasi (hegemoni). Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan formasi ideologi dan hubungan kekuasaan dalam Novel Namaku Alam karya Leila S. Chudori. Penelitian ini berjenis deskriptif kualitatif. Objek penelitian ini berupa novel Namaku Alam (objek material) dan sosiologi sastra Gramsci (objek formal). Sumber data dalam penelitian ini adalah novel Namaku Alam. Metode dan teknik penyediaan data penelitian ini berupa studi pustaka, close reading, dan pencatatan. Dalam menganalisis data digunakan metode deskriptif kualitatif dan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan praktik hegemoni terlihat dari interaksi antarideologi tokoh-tokoh novel Namaku Alam. Dalam interaksi antarideologi tersebut, hubungan yang terjalin antara ideologi liberalisme (didukung humanisme) selaku ideologi subordinat dan otoritarianisme (didukung etnosentrisme) selaku ideologi dominan ialah saling bersubordinasi. Subordinasi dilakukan dengan cara negosiasi dari internalisasi nilai-nilai ideologi dominan sehingga secara sukarela tercapai konsensus terselubung. Artinya, kekuasaan otoriter tidak hanya dipertahankan melalui kekerasan, tetapi juga melalui pengaruh ideologis yang membentuk kesadaran kolektif masyarakat. Kata kunci: formasi ideologi, interaksi antarideologi, dominasi, hegemoni.
Copyrights © 2025