Artikel ini membahas sosialisasi program Sekolah Perdamaian Adat di SMAN 2 Palangka Raya sebagai upaya menginternalisasikan nilai-nilai kearifan lokal Dayak, khususnya hampahari, dalam memperkuat karakter toleransi dan budaya damai pada generasi muda. Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya tantangan intoleransi, radikalisme, serta rendahnya literasi budaya lokal di kalangan pelajar, meskipun Kalimantan Tengah memiliki tradisi adat yang kaya akan nilai keharmonisan seperti Huma Betang, handep, dan hapakat. Melalui metode partisipatoris yang melibatkan ceramah interaktif, diskusi, refleksi, dan simulasi penyelesaian konflik, sebanyak 37 siswa mengikuti rangkaian kegiatan yang diawali pretest dan diakhiri post test. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman dan refleksi siswa, ditandai oleh kenaikan skor rata-rata dari sekitar 47 pada pre-test menjadi sekitar 83 pada post-test serta pergeseran kualitas jawaban esai ke kategori lebih tinggi. Program ini membuktikan bahwa pendidikan berbasis kearifan lokal mampu memperkuat literasi budaya, membangun kesadaran multikultural, serta menumbuhkan perilaku damai yang relevan dengan konteks kehidupan remaja masa kini. Dengan demikian, integrasi nilai-nilai lokal dalam pendidikan formal menjadi strategi efektif dalam membentuk generasi toleran dan berkarakter sosial budaya yang kuat.
Copyrights © 2026