This study explores the urgent need to reorient the Arabic language curriculum in Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) toward a framework of meaningful, deep, and joyful learning. While classical Arabic education has emphasized memorization and grammar to preserve Islamic scholarly traditions, it often neglects communicative competence, critical thinking, and contextual relevance. Drawing on the theories of meaningful learning from Ausubel, deep learning from Biggs & Tang, and joyful learning form Rogers and Seligman, this article proposes a transformative curriculum model that harmonizes tradition with innovation. Utilizing a qualitative library research method, the paper analyzes theoretical foundations, national education policies, and best practices in MDTs. The findings offer practical recommendations for curriculum development, teacher training, authentic assessment, and the integration of digital and local learning resources. This reorientation aims to cultivate spiritually rooted, critically aware, and linguistically capable learners who can engage with Islamic texts and contemporary challenges alike.Penelitian ini mengkaji urgensi reorientasi kurikulum Bahasa Arab di Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) menuju kerangka pembelajaran yang bermakna, mendalam, dan menyenangkan. Tradisi pengajaran Bahasa Arab di MDT yang menitikberatkan pada hafalan dan gramatika klasik memang berkontribusi terhadap pelestarian keilmuan Islam, namun kurang membekali peserta didik dengan kompetensi komunikatif, berpikir kritis, dan relevansi kontekstual. Dengan mengacu pada teori meaningful learning dari Ausubel, deep learning dari Biggs & Tang, dan joyful learning dari Rogers dan Seligman, artikel ini mengusulkan model kurikulum transformatif yang mengintegrasikan kekayaan tradisi Islam dengan pendekatan pedagogis modern yang kontekstual dan berpusat pada peserta didik. Melalui metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, artikel ini mengkaji fondasi teoretis, kebijakan pendidikan nasional, dan praktik baik di MDT. Hasilnya tawaran rekomendasi konkret terkait pengembangan isi kurikulum, pelatihan guru, asesmen autentik, serta pemanfaatan media digital dan lokal. Reorientasi ini bertujuan membentuk peserta didik yang cakap berbahasa, reflektif, serta berakar kuat pada nilai-nilai Islam dan siap menghadapi tantangan zaman.
Copyrights © 2025